Bagi Tsui, kolaborasi itu tidak hanya memperluas wawasannya. Tetapi juga memberikan kesempatan belajar bagi seluruh timnya.
Saat pertama pindah ke Macau pada 2012, ia membawa enam anggota tim. Kini, dapurnya dihuni oleh 23 orang, dengan inti tim lama yang masih solid.
“Kami sudah sangat kompak. Kadang saya cukup memberikan tatapan, dan mereka langsung tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.
BACA JUGA:Protein Nabati Terbaik Selain Tahu Tempe
Tak hanya piawai di dapur restoran, Tsui juga memimpin tim dapur untuk jamuan kenegaraan Macau. Sejak 2015, perannya terus meningkat.
Pada perayaan kembalinya Macau ke Tiongkok yang ke-25 tahun, ia memimpin tim berisi 70 koki. Menyajikan delapan hidangan untuk 600 tamu hanya dalam 45 menit.
Mewariskan Cita Rasa, Menciptakan Kenangan
Bagi Tsui, rasa saja tidak cukup untuk menciptakan kenangan. Setiap sajian harus membawa perasaan, perhatian, dan cerita.
BACA JUGA:5 Jenis Pizza Khas Italia yang Favorit
Dengan pendekatan itu, ia berharap bisa menyalakan kembali semangat terhadap masakan klasik. Bukan hanya untuk penikmatnya hari ini, tetapi juga generasi masa depan.
Karena di tangan seorang chef sejati, makanan dapat menjadi warisan, seni, dan ekspresi cinta. (*)