Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (69): Hangatnya Rumah Kayu Lisu

Jumat 31-10-2025,15:18 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

Cakrawala peserta China International Press Communication Center (CIPCC) kian terbuka. Tiongkok bukan hanya tentang gedung jangkung yang menyangga langit. Bukan hanya tentang robot-robot yang membuat kami seperti di masa depan. Tapi ada warisan budaya yang terus menerus dijaga.

SENIN petang, 20 Oktober 2025, matahari hampir hilang di balik pegunungan Yanbian, Sichuan barat daya. Udara mulai dingin. Tapi langkah kami bersicepat memasuki sebuah rumah khas. Rumah kayu. Milik suku Lisu.

Bau asap dari pendiangan yang terus menyala menyambut kami. Itu tanda ritme hidup yang tak berubah berabad-abad. Masih lestari. Api itu membikin hangat. Simbol hangatnya sambutan yang kami terima.

Empat gadis Lisu berdiri di pintu. Pakaian mereka berwarna-warni dan penuh manik-manik. Sparkling. Senyum mereka membikin kami kian merasa hangat.

Mereka mengulurkan mangkuk yang penuh cairan berwarna cokelat. ’’Silakan diminum,’’ kata Mao Jian, perempuan yang memandu kami.

BACA JUGA:Harian Disway di China International Press Communication Center (CIPCC) (68): Energi dari Barat untuk Tiongkok Baru

BACA JUGA:Siswa ITCC Raih Beasiswa ke Tiongkok (6): Siap Taklukkan Dunia Siber

Beberapa jurnalis ragu-ragu. Minuman apa ini? Butek. Keruh. 

Ragu-ragu, kami mendekatkan mangkuk itu ke mulut. Ternyata, minuman hangat. Rasanya seperti cokelat. Bukan! Seperti rebusan kacang. Ada manisnya. Muncul pula gurihnya.

’’Teh ini khas suku lisu,’’ kata Mao Jian. Kalimat-kalimatnya diartikan oleh penerjemah yang juga mendampingi rombongan kami.

Bahan teh itu ternyata juga khas. Walnut, beras, dan beberapa herbal lokal. Ya, harus diakui, meneguk teh hangat itu adalah meneguk warisan budaya suku yang mendiami kawasan pegunungan itu.

Rumah yang kami kunjungi itu memang bukan tempat tinggal. Lebih mirip etalase. Atau museum.


HARIAN DISWAY (tengah) berfoto bersama empat perempuan suku Lisu.-Dokumen Pribadi-

Di setiap sudut tersimpan kerajinan Lisu. Ada kain dengan warna alami yang hidup, boneka monyet yang imut, hingga foto-foto besar pakaian khas Lisu dengan gaya pemotretan fashion.

Pakaian khas suku itu memang penuh makna. Roknya lipit-lipit. Laporan China.org.cn menyebut bahwa sabuk merah suku Lisu adalah simbol untuk pelangi sekaligus doa untuk meminta hujan. Rok lipatnya mewakili memori 12 pegunungan dan 99 sungai di tanah mereka.

Kategori :