HARIAN DISWAY - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kembali menyoroti urgensi peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) sebagai salah satu tolok ukur paling penting dalam pembangunan kesehatan nasional. Ia menekankan bahwa indikator ini mencerminkan langsung keberhasilan layanan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
Menurut Menkes Budi, AHH Indonesia yang berada di kisaran 72 tahun masih belum memenuhi ekspektasi, terutama bila dibandingkan dengan negara-negara yang telah lebih maju sistem kesehatannya. Gap ini, ujarnya, harus dikejar melalui percepatan reformasi sektor kesehatan.
Dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan pada Jumat, 28 November 2025, Menkes Budi menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan kenaikan AHH menjadi 75 tahun pada tahun 2029 sesuai arah kebijakan Rencana Jangka Panjang Menengah Nasional (RJPMN). Target tersebut diharapkan tercapai melalui penguatan layanan kesehatan di berbagai lini.
“Rata-rata usia di Indonesia sekarang 72 tahun. Namun usia hidup sehat kita baru sekitar 60 tahun,” ujar Menkes Budi.
“Target RJPM-nya pada 2029, nanti kalau Pak Prabowo tahap pertama pemerintahannya selesai, itu harus naik dari 72 ke 75.”
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan AHH nasional stabil di sekitar 72 tahun. Namun, Menkes Budi menekankan bahwa kualitas hidup—yang tercermin dari Healthy Life Expectancy (HALE)—menjadi perhatian utama. Banyak warga Indonesia yang mulai mengalami penyakit kronis sejak memasuki usia awal 60-an.
Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan HALE naik dari sekitar 60 tahun menjadi 65 tahun pada 2029. “Panjang umur penting, tetapi hidup sehat sepanjang usia jauh lebih penting,” katanya.
Untuk mencapai target AHH 75 tahun dan HALE 65 tahun, Kemenkes mempercepat implementasi transformasi kesehatan melalui enam pilar utama:
Pencegahan Primer
Penguatan layanan primer seperti Puskesmas dan Posyandu, termasuk skrining dini penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung—penyebab kematian terbanyak di Indonesia.
Pengendalian Penyakit Menular
Percepatan penanganan Tuberkulosis (TBC) dan pencegahan stunting, dua faktor yang sangat memengaruhi kualitas hidup jangka panjang dan AHH.
Peningkatan Layanan Rujukan
Pemerataan fasilitas rumah sakit daerah, mulai dari alat kesehatan hingga tenaga spesialis, agar kasus kronis dan gawat darurat dapat ditangani lebih optimal.
Kemandirian Farmasi dan Alkes
Penguatan produksi obat dan alat kesehatan dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor serta memastikan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih terjangkau.
Kemenkes juga tengah menyelesaikan Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) yang akan menjadi panduan jangka panjang dalam memprioritaskan pencegahan dan meningkatkan layanan kesehatan dasar di seluruh wilayah.
Menkes Budi menegaskan bahwa peningkatan AHH dan HALE adalah investasi strategis menuju visi Indonesia Emas 2045. Dengan masyarakat yang hidup lebih panjang dan sehat, produktivitas nasional diharapkan semakin meningkat.
“Tujuan akhirnya bukan hanya umur panjang, tetapi hidup sehat hingga usia lanjut agar masyarakat tetap produktif,” tutup Menkes Budi. (*)