Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik

Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik

ILUSTRASI Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MUDIK adalah ritual tubuh sosial terbesar di Indonesia yang menautkan ingatan, identitas, dan emosi jutaan orang dalam satu gerak kolektif. Arus manusia bergerak serempak dari kota ke desa, dari pusat ekonomi ke pusat emosi, seolah mengikuti denyut yang sama. Namun, benarkah perayaan tubuh sosial itu tak berbeda tiap tahunnya?

Narasi terkait fenomena dan tradisi mudik tahun ini menggambarkan realitas kontras di mana tubuh masyarakat Indonesia ”tersandera” oleh ketegangan geopolitik global saat sedang menjalankan tradisi tahunan. 

Fenomena itu bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan juga medan tafsir kompleks, di mana keselamatan biologis dan stabilitas ekonomi rakyat berbenturan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Fenomena tersebut tidak lahir dari kebiasaan spontan, tetapi tumbuh dari struktur sosial yang panjang: sejarah urbanisasi, migrasi kerja, dan budaya kekeluargaan yang mengakar kuat. Dalam konteks ini, mudik bukan hanya perpindahan geografis, melainkan juga ekspresi kerinduan yang dibentuk oleh sistem sosial itu sendiri. 

BACA JUGA:Mudik, Jalan Pulang yang Menyatukan Indonesia

BACA JUGA:Mudik: Epos Perantau

Kerinduan tersebut bersifat struktural –sebuah ”rindu struktural” yang lahir dari perubahan besar dalam masyarakat Indonesia sejak dekade 1970-an, ketika urbanisasi besar-besaran melahirkan kelas perantau baru. 

Mereka hidup di kota, bekerja di pusat ekonomi, dan membangun kehidupan modern, tetapi secara kultural tetap tertambat pada desa. Identitas mereka terbelah: secara struktural mereka adalah warga kota, tetapi secara emosional mereka tetap anak kampung. 

Di titik itulah mudik menemukan makna paling intim: ia adalah jalan pulang yang meneguhkan kembali identitas, menghubungkan kembali tubuh dengan akar sosial dan emosionalnya.

Namun, ekspresi kerinduan struktural itu tahun ini bertemu dengan realitas geopolitik yang keras. Tubuh pemudik ikut tersandera oleh harga minyak yang melonjak akibat perang di Iran. Harga minyak dunia yang menembus angka 100 dolar AS per barel membuat ongkos mudik melonjak tajam. 

BACA JUGA:Tradisi Mudik Gairahkan Dinamika Ekonomi Masyarakat

BACA JUGA:Mudik, Masalahmu hingga Kini

Setiap liter bensin yang masuk ke tangki adalah beban langsung di dompet. Tubuh pemudik merasakan panas jalanan, juga panas harga energi global. Perjalanan yang biasanya dihitung dengan jam dan kilometer kini juga dihitung dengan kurs dolar dan harga minyak dunia. 

Selat Hormuz, jalur sempit di Teluk Persia, adalah ”jalan tol energi dunia”. Ia menjadi titik genting yang menentukan nasib jutaan pemudik di Indonesia. Jika aksesnya terganggu, suplai minyak global terguncang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: