Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik
ILUSTRASI Antara Mudik dan Perang: Tubuh yang Tersandera Drama Geopolitik.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ironisnya, macet di tol trans-Jawa punya akar di sana. Tubuh yang terjebak di jalan adalah cermin rapuhnya rantai energi global. Kita bisa melihat bagaimana tubuh-tubuh yang berdesakan di bus atau mobil pribadi sebenarnya sedang menjadi bagian dari drama geopolitik yang jauh di luar negeri.
Sementara itu, ribuan WNI di Iran dan Irak menghadapi mudik yang jauh lebih berat. Bagi mereka, mudik bukan sekadar ritual, melainkan juga perjuangan eksistensial untuk pulang ke tanah air.
BACA JUGA:Mudik dan Arus Balik
BACA JUGA:Polisi Nggak Mudik Juga Nggak Nangis
Ada ironi yang menyakitkan: tubuh-tubuh di Indonesia berjuang menuju kampung halaman, sedangkan tubuh diaspora justru berjuang untuk keluar dari zona konflik.
Mudik di tanah air adalah soal tiket dan bensin, sedangkan mudik di luar negeri adalah soal keselamatan dan evakuasi. Di titik itu, mudik memperlihatkan paradoks yang tajam. Ia adalah simbol kerinduan, sekaligus simbol kerentanan.
Tubuh pemudik yang berdesakan di terminal atau terjebak di jalan tol sebenarnya sedang menanggung beban konflik yang terjadi ribuan kilometer jauhnya. Tubuh yang seharusnya menjadi medium kebahagiaan dan pertemuan keluarga justru menjadi arena politik energi.
Pertanyaannya, sampai kapan tubuh kita harus membayar harga perang yang jauh di sana? Apakah kita akan terus membiarkan tubuh pemudik menjadi saksi bisu dari ketidakstabilan global? Apakah negara hanya akan melihat mudik sebagai arus tahunan yang harus diatur lalu lintasnya, tanpa menyadari bahwa di balik arus itu ada tubuh-tubuh yang sedang menanggung beban geopolitik?
Mudik adalah jalan pulang, tetapi tubuh pemudik kini ikut menanggung beban geopolitik. Dari bensin hingga Selat Hormuz, dari kampung halaman hingga diaspora, tubuh kita adalah saksi bahwa kampung halaman tidak pernah bebas dari panggung global.
Mudik yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan kini juga menjadi cermin rapuhnya sistem energi dunia. Hal itu bisa menjadi salah satu pelajaran penting: mudik bukan hanya soal rindu, melainkan juga soal politik.
Ia mengingatkan kita bahwa tubuh manusia tidak pernah benar-benar bebas dari struktur besar yang mengaturnya. Tubuh pemudik adalah tubuh sosial, tubuh ekonomi, tubuh politik. Ia bergerak karena rindu, tetapi juga berhenti karena harga minyak. Ia ingin pulang, tetapi juga tersandera oleh perang.
Pada akhirnya, mudik adalah ritual yang memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara yang lokal dan yang global. Kerinduan yang lahir dari struktur sosial Indonesia bertemu ketegangan geopolitik dunia.
Tubuh pemudik menjadi titik temu antara desa dan kota, antara keluarga dan negara, antara rindu dan perang. Mudik adalah jalan pulang. Tetapi, jalan pulang itu kini berliku, penuh harga, penuh geopolitik.
Tubuh pemudik adalah saksi, sekaligus korban, dari dunia yang makin terhubung, tetapi juga makin rapuh. (*)
*) Ida Nurul Chasanah, dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: