Pembangunan 19 Sekolah Rakyat Jatim Capai 75 Persen
Pembangunan 19 Sekolah Rakyat (SR) permanen di berbagai daerah di Jawa Timur terus dikebut menjelang tahun ajaran baru. --
HARIAN DISWAY - Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Sosial terus mempercepat pembangunan 19 Sekolah Rakyat (SR) permanen yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Langkah ini dilakukan untuk memastikan fasilitas pendidikan bagi keluarga miskin dapat segera dimanfaatkan pada tahun ajaran baru.
Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Novi Restu Widiani, mengatakan pembangunan fisik Sekolah Rakyat permanen saat ini telah mencapai sekitar 75 persen. Seluruh pihak terkait di daerah bergerak mempercepat penyelesaian proyek agar target operasional dapat tercapai sesuai jadwal.
“Semuanya bergerak mempercepat, rata-rata realisasi sudah sekitar 75 persen karena akan menyongsong tahun ajaran baru. Skemanya diatur oleh Kementerian Sosial, kami di provinsi tinggal memonitoring pelaksanaannya,” ujar Novi, Selasa 16 Juni 2026.
Menurut Novi, proses penerimaan peserta didik baru dilakukan menggunakan basis Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sistem ini memprioritaskan masyarakat yang masuk kategori Desil 1 atau kelompok ekonomi paling rentan.
BACA JUGA:Siswa Sekolah Rakyat Ponorogo Tampil Memukau di Festival Nasional Reog 2026
BACA JUGA:Presiden Prabowo Sebut Sekolah Rakyat Hadir untuk Bantu Masyarakat Kurang Berdaya
Setiap Sekolah Rakyat permanen diproyeksikan mampu menampung 270 siswa baru yang terdiri atas tiga rombongan belajar tingkat SD, tiga SMP, dan tiga SMA. Dengan tambahan tersebut, jumlah peserta didik Sekolah Rakyat di Jawa Timur akan meningkat signifikan dari total 2.450 siswa yang telah berjalan sejak tahun sebelumnya.
“Semuanya itu merekrut 270. Tiga SD, tiga SMP, tiga SMA. Bagi daerah yang belum punya rintisan tetapi memiliki sekolah permanen, langsung merekrut 270 siswa,” katanya.
Di tengah proses pembangunan, Pemprov Jatim juga melakukan penataan terhadap daerah yang sebelumnya telah memiliki Sekolah Rakyat rintisan. Sekolah-sekolah tersebut akan dipindahkan ke gedung permanen yang telah selesai dibangun.
Salah satu contohnya berada di Kabupaten Banyuwangi. Daerah tersebut memiliki Sekolah Rakyat rintisan dan permanen yang nantinya akan digabung dalam satu lokasi.
“Banyuwangi ini punya rintisan, punya permanen. Jadi disatukan. Yang rintisannya pindah ke permanen. Langsung on the track, pindah,” jelas Novi.
BACA JUGA:Pesan Presiden Prabowo ke Siswa Sekolah Rakyat Tabanan Bali: Angkat Derajat Orang Tuamu
BACA JUGA:Tinjau Sekolah Rakyat di Tabanan Bali, Presiden Prabowo Disambut Tari Kecak
Meski demikian, skema penggabungan antara sekolah rintisan dan permanen masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah berupaya memastikan proses transisi berjalan lancar tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar para siswa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: