Mudik, Jalan Pulang yang Menyatukan Indonesia

Mudik, Jalan Pulang yang Menyatukan Indonesia

ILUSTRASI Mudik, Jalan Pulang yang Menyatukan Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SETIAP menjelang Idulfitri, Indonesia seperti sedang bergerak pulang. Jalan tol memanjang dipenuhi kendaraan, stasiun dan bandara sesak oleh manusia yang membawa tas dan harapan, pelabuhan dipenuhi wajah-wajah yang menatap ke arah kampung halaman

Jutaan orang meninggalkan kota, menempuh perjalanan panjang, kadang melelahkan, hanya untuk satu tujuan sederhana: pulang. Fenomena itu kita sebut mudik.

Setiap tahun ia hadir seperti ritual besar bangsa. Orang rela menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari. Kemacetan panjang, tiket mahal, perjalanan yang melelahkan yang semua itu seakan tidak menjadi soal. 

Ada dorongan yang lebih kuat dari sekadar logika praktis: kerinduan untuk kembali ke rumah. Di situlah mudik menemukan makna terdalamnya. Ia bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan batin manusia menuju asal-usulnya.

BACA JUGA:PWNU Jatim Berangkatkan 15 Bus Mudik Gratis, Layani hingga 1.000 Pemudik

BACA JUGA:Gus Yani Berangkatkan 750 Warga Mudik Gratis Gresik 2026, Layani 7 Rute di Jatim

MUDIK PERGERAKAN BUDAYA

Bagi masyarakat Indonesia, kampung halaman bukan sekadar tempat lahir. Ia adalah ruang memori. 

Di sanalah masa kecil tertanam: jalan tanah yang pernah dilalui dengan kaki telanjang, rumah sederhana tempat keluarga berkumpul, masjid atau langgar yang menyimpan kenangan Ramadan pertama. Kampung halaman adalah ruang yang menyimpan identitas.

Modernitas boleh saja membawa manusia merantau jauh ke kota-kota besar. Pekerjaan, pendidikan, dan kesempatan hidup membuat banyak orang meninggalkan desa. 

Namun, ada satu hal yang tidak pernah sepenuhnya terputus: ikatan emosional dengan tempat asalnya. Mudik adalah cara manusia menjaga ikatan itu.

BACA JUGA:Mudik: Epos Perantau

BACA JUGA:Mudik, Masalahmu hingga Kini

Antropolog UGM Heddy Shri Ahimsa-Putra melihat tradisi mudik sebagai bentuk upaya masyarakat urban untuk tetap mempertahankan hubungan simbolis dengan kampung halaman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: