Serial NPSIS (2): Bisakah Korupsi Dilihat sebelum Terjadi?

Serial NPSIS (2): Bisakah Korupsi Dilihat sebelum Terjadi?

ILUSTRASI Serial NPSIS (2): Bisakah Korupsi Dilihat sebelum Terjadi?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

PADA tulisan sebelumnya, saya mengajukan satu pertanyaan, ”mengapa negara selalu terlambat?” Korupsi diketahui setelah uang hilang. Penyimpangan ditemukan setelah terjadi kerugian. Pengawasan dilakukan setelah masalah makin menjadi tidak karuan.

Kini muncul pertanyaan berikutnya yang tidak kalah menarik. Yaitu, ”bisakah korupsi dilihat sebelum terjadi?” Mungkin banyak yang menjawab, ”tidak bisa”. Sebab, korupsi terjadi di dalam pikiran manusia. Tidak ada yang bisa membaca niat seseorang. Saya setuju itu. Tetapi, sebetulnya yang perlu dilihat bukan niatnya. Tapi, gejalanya.

Dalam dunia kesehatan, dokter sering tidak mengetahui kapan penyakit akan muncul. Tapi, dokter dapat membaca tanda-tanda gejala dan risikonya. 

Karena itulah, pengobatan modern tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga pada pencegahan. Nah, mengapa prinsip yang sama tidak kita terapkan dalam tata kelola publik?

BACA JUGA:Serial NPSIS (1): Mengapa Negara Selalu Terlambat?

BACA JUGA:KPK, Keppres, dan Pertarungan Narasi Antikorupsi

Bukankah setiap penyimpangan yang terjadi biasanya tidak muncul begitu saja. Hampir selalu ada tanda-tanda yang mendahuluinya: anggaran yang tidak wajar. Transaksi yang berulang dengan pola yang sama. Kenaikan biaya yang sulit dijelaskan. Atau, perubahan perilaku yang menyimpang dari kebiasaan sebelumnya.

Masalahnya, sering kali tanda-tanda tersebut tersebar di berbagai tempat dan tidak pernah dibaca sebagai satu kesatuan. Akibatnya, negara baru mengetahui masalah ketika semuanya sudah terlambat.

Menurut saya, inilah tantangan besar tata kelola modern. Tidak sekadar memperkuat pengawasan setelah kejadian, tetapi juga membangun kemampuan membaca pola gejala dan risiko sebelum masalah membesar. 

Sebab, setiap penyimpangan yang dapat dicegah pasti jauh lebih berharga daripada penyimpangan yang dapat diungkap setelah kerugian terjadi. (*)

Ulul Albab adalah akademisi, ketua ICMI Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: