Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra

Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra

ILUSTRASI Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERMASALAHAN korupsi tak habis-habisnya terjadi di Indonesia, mulai daerah-daerah hingga tingkat pusat. korupsi telah sempurna merambah ke berbagai birokrasi negara. 

Lembaga-lembaga penegak hukum juga berlepotan dengan korupsi, bahkan melibatkan perwira aktif dari kepolisian dan angkatan darat. 

Kasus paling aktual adalah terbongkarnya korupsi yang dilakukan oleh mantan jampidsus di Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, menyusul korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN) yang dilakukan ketuanya, Dadan Hindayana, beserta staf dan jaringannya.

Lebih ironis lagi, Ketua KPK (periode 2019–2024) Firli Bahuri juga ditetapkan sebagai tersangka pelaku korupsi. Bahkan, mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menjadi tersangka kasus korupsi.

BACA JUGA:Entropi Demokrasi: Korupsi Merajalela, Bangsa Sedang Dikebiri

 BACA JUGA:Korupsi Kaum Terpelajar dan Nasihat Buya Syafii

Para anggota dewan perwakilan rakyat, menteri dan wakilnya, gubernur, bupati, wali kota, serta para pejabat di birokrasi negara susul-menyusul menjadi  pelaku korupsi. 

Klasemen korupsi di badan usaha milik negara nilainya juga tak kalah gilanya: PT Pertamina, PT Timah, PT Asabri, PT Asuransi Jiwa Sraya, PT Trans-Pasific Petrochemical Indotama, dan masih banyak lagi. 

Betapa memalukan pula mantan Presiden Jokowi juga masuk daftar lima finalis tokoh paling korup di dunia tahun 2024 (versi OCCRP). Kepolisian Republik Indonesia pun dipersepsikan sebagai kepolisian terkorup di Asia Tenggara versi IndexMundi (2024, 2026). 

Tahun 2026 Transparency International merilis indeks persepsi korupsi bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-109 di dunia dengan skor 34 (skala: skor 1 = sangat korup, skor 100 = sangat bersih).

BACA JUGA:Ada Apa dengan MBG dan Dugaan Korupsi di Dalamnya?

BACA JUGA:Kita Membutuhkan Atlas Korupsi Indonesia: Untuk Membaca Kasus, Membongkar Pola, Memperbaiki Sistem

Maraknya korupsi di Indonesia dari waktu ke waktu tak terbantahkan. Korupsi merupakan permasalahan paling aktual hingga saat ini. Lalu, apa hubungannya dengan hadiah Nobel Sastra?   

Awal bulan Juli yang lalu, Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) mendeklarasikan  secara resmi bahwa penyair Taufiq Ismail akan diusulkan sebagai calon penerima hadiah Nobel Sastra. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: