Ada Apa dengan MBG dan Dugaan Korupsi di Dalamnya?
Anak-anak menikmati menu MBG yang mereka terima.--

--
Oleh: Ulul Albab, Akademisi, Ketua ICMI Jawa Timur
Saya sebenarnya tidak terlalu terkejut. Bukan karena saya tahu apa yang terjadi di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan pula karena saya ikut mengawasi proyek itu dari dekat. Tetapi karena saya hidup cukup lama di negeri ini dan cukup pengalaman untuk memahami bahwa “semakin besar anggaran yang beredar, semakin besar pula godaan yang berkeliaran di sekitarnya.”
Yang membuat saya justru sedih adalah karena MBG bukan program biasa. MBG bukan proyek membangun gedung. Bukan proyek membeli kendaraan dinas. Bukan pula proyek mempercantik kantor pemerintah. Tapi proyek yang menyangkut makanan anak-anak Indonesia. Menyangkut masa depan generasi yang suatu hari nanti akan menggantikan kita semua.
Karena itu, ketika kita membaca berita tentang dugaan penyimpangan anggaran MBG, sesungguhnya yang terluka bukan hanya keuangan negara. Yang ikut terluka adalah kepercayaan rakyat. Tentu kita harus menghormati proses hukum. Biarlah pengadilan yang nanti memutuskan siapa yang bersalah dan siapa yang tidak.
Tetapi ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting. Yaitu: Mengapa hampir setiap program besar negara selalu berakhir dengan cerita yang mirip? Mengapa setelah puluhan tahun reformasi, kita masih sering mendengar lagu lama yang diputar berulang-ulang?
BACA JUGA:Prabowo Minta Menu MBG Dievaluasi: Telur Jangan Didadar, Ayam Tak Boleh Dipotong Terlalu Kecil
BACA JUGA:BGN Terjerat Kasus Dugaan Korupsi, Prabowo Tetap Optimistis Program MBG akan Berhasil
Jawabannya tentu tidak sesederhana hanya soal moral individu. Dalam ilmu administrasi publik, korupsi besar hampir tidak pernah lahir sendirian. Ia tumbuh karena sistem membiarkannya tumbuh.
Korupsi itu ibarat tikus. Kalau satu tikus masuk rumah, mungkin itu kesalahan tikus. Tetapi kalau tikus masuk dari segala arah, mungkin yang bermasalah bukan tikusnya. Mungkin rumahnya yang terlalu banyak lubang. Itulah yang sering kita lupa.
Kita terlalu sibuk mencari siapa pelakunya, tetapi jarang bertanya siapa yang membangun sistemnya. Kita gemar menangkap koruptor, tetapi kurang bersemangat memperbaiki tata kelola yang melahirkan koruptor. Padahal negara maju bukan negara yang paling banyak menangkap pelaku korupsi. Negara maju adalah negara yang membuat korupsi menjadi sulit dilakukan.
MBG sesungguhnya adalah gagasan yang baik. Sangat baik bahkan. Anak-anak Indonesia memang membutuhkan gizi yang lebih baik. Petani dan UMKM lokal juga membutuhkan pasar yang lebih pasti. Karena itu, jangan sampai dugaan penyimpangan ini membuat kita kehilangan arah.
BACA JUGA:Harga Telur Anjlok di Bawah HPP, PPRN Desak Pemerintah Tambah Menu Telur di Program MBG
BACA JUGA:5 Kontroversi Dadan Hindayana Selama Pimpin BGN, dari Susu 2 Liter hingga Wacana MBG di Arab Saudi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: