Harga Telur Anjlok di Bawah HPP, PPRN Desak Pemerintah Tambah Menu Telur di Program MBG
Petugas DPKP Surabaya Mengecek Ketersediaan Telur di Minimarket di Surabaya, Kamis 2 April 2026-Pemkot Surabaya-
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Peternak telur di Jawa Timur menjerit akibat anjloknya harga telur di pasaran. Meningkatkannya jumlah produksi berkurangnya serapan pasar membuat para peternak tak punya pilihan. Jual rugi atau memilih menumpuk telur di kandang.
Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofiyasifun mengatakan, jeritan para peternak itu terjadi lantaran harga jual telur saat ini jauh dibandingkan Harga Pokok Produksi (HPP). Saat ini, harga jual telur dari peternak hanya berkisar antara Rp21.000 hingga R22.000 per kilogram.
”Sementara HPP peternak saat ini sudah tembus sekitar Rp26.000 per kilogram. Lantaran harga pakan semakin naik,” Rofi kepada Harian Disway, Rabu siang. Kondisi itu membuat peternak saat ini merugi sekitar Rp4.000- Rp5.000 per kilogram.
Rofi mengungkapkan, kondisi anjloknya harga telur saat ini terjadi sekitar satu bulan ke belakang. Tepatnya, sejak runtutan libur hari raya. Tren penurunan itu dinilai sebagai imbas langsung dari terjadinya surplus produksi nasional yang tidak seimbang dengan daya serap pasar.
BACA JUGA:Pakan Ternak Tergantung Impor, Harga Telur Tembus Rp 32 Ribu
BACA JUGA:Japanese Potato Salad, Menu Modifikasi Salad dari Kentang dan Telur Rebus ala Jepang
"Secara data dari rapat bersama Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, dan BPS, ada surplus produksi telur sekitar 13 persen. Kebutuhan dalam negeri per tahun berkisar 5,3 hingga 5,4 juta ton, sedangkan kemampuan produksi nasional menembus 6,2 juta ton," ujar Rofi.
Menurut Rofi, salah satu faktor utama yang memperparah situasi ini adalah penurunan serapan dari program pemerintah. Khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selama bulan Mei, banyaknya tanggal merah dan cuti bersama membuat operasional program MBG berkurang drastis karena sekolah libur.
Selain faktor kalender, adanya perubahan kebijakan teknis dalam penyaluran menu program tersebut turut memangkas volume serapan telur dalam jumlah besar. "Setelah hari raya, ada kebijakan baru dari BGN (Badan Gizi Nasional) yang meniadakan menu rapel di hari Sabtu. Padahal, menu rapel di akhir pekan itu yang sebelumnya paling banyak menyerap komoditas telur dari peternak," jelasnya.
Di luar itu, Rofi menyebut ada masalah lain yang bakal menjadi bom waktu jika tak diantisipasi pemerintah. Salah satunya, fenomena ekspansi populasi ayam petelur secara masif di berbagai daerah. Kehadiran program MBG sempat memicu optimisme tinggi, sehingga banyak pelaku usaha baru di luar sektor peternakan bergabung merebut ceruk untung. Kondisi itu memicu pertumbuhan populasi ayam petelur melonjak tak terkendali dan memicu kelebihan pasokan di pasar harian.
Terkait situasi ini, Rofi menyarankan agar pemerintah segera bertindak guna membeli stok yang berlebihan di tingkat peternak. Salah satunya dengan memperbanyak menu telur dalam program MBG. ”Jika sebelumnya seminggu satu dua kali menu telur. Bisa diperbanyak menjadi tiga sampai empat kali,” katanya.
Kedua, solusi lewat pengurangan populasi ayam petelur. Peternak bisa melakukan afkir dini pada ayam petelur mereka guna menekan kelebihan stok. ”Tanpa skema ini, produksi telur akan terus surplus tanpa diimbangi serapan pasar,” jelasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: