Dari 'Kecoak' Menjadi Gerakan: Pelajaran Komunikasi Publik dari Mancanegara

Dari 'Kecoak' Menjadi Gerakan: Pelajaran Komunikasi Publik dari Mancanegara

Ilustrasi Kecoak-Pexels.com/Picas Joe-

MEI silam, Ketua Hakim Agung India Surya Kant melontarkan sebuah ujaran kontroversial. Ia menyinggung sekelompok pemuda pengangguran yang bergerak di bidang aktivisme sebagai ”kecoak yang tidak dapat pekerjaan di profesinya”.

Komentar itu ramai. Sepekan kemudian, sang hakim buru-buru mengeluarkan klarifikasi. Sindirannya, katanya, hanya menyasar pemuda pengangguran serta para pemegang ijazah bodong. Klaimnya, itu bukanlah generalisasi untuk anak muda India secara keseluruhan.

Klarifikasi tersebut mungkin masuk akal secara teknis. Sayang, semuanya sudah terlambat.

Seorang pemuda 30 tahun bernama Abhijeet Dipke, yang saat itu tinggal di Boston, membaca komentar tersebut bukan sebagai kritik sempit ke segelintir oknum pemuda. Alih-alih, ia membacanya sebagai cermin bagaimana kelompok elite memandang rakyat muda yang kritis: pengangguran, tidak berguna, bahkan layak disamakan dengan hama. 

BACA JUGA:Kemarahan Mahasiswa yang Mengguncang New Delhi, Kecoak Bergerak

BACA JUGA:Partai Kecoak: Ketika Satire Lebih Jujur daripada Pidato Politisi

Dipke tidak membalas dengan bantahan panjang. Ia cukup mengunggah sebuah pesan di internet: semua kecoak, bersatulah.

Dalam hitungan pekan, pengikut gerakan yang ia beri nama Cockroach Janta Party/CJP (Partai Rakyat Kecoak) itu lalu mencapai angka jutaan. Bahkan, saat artikel ini dibuat, jumlahnya sudah mencapai 26 juta pengikut. 

Angka tersebut jauh melampaui 9 juta pengikut partai petahana, Bharatiya Janata Party (BJP), yang namanya menjadi bahan pelesetan gerakan. Dipke bukanlah seorang aktivis kawakan, ia hanyalah seorang diaspora biasa yang gelisah dengan kondisi negaranya.

Sekilas, itu tampak seperti kasus salah paham yang dibesar-besarkan. Namun, itu contoh nyata dari yang disebut para peneliti bahasa dan gerakan sosial sebagai reappropriation alias pemaknaan ulang label. 

Bukannya menolak, kelompok yang dihina justru mengambil alih kata penghinaan itu, membalik maknanya, lalu menjadikannya identitas kolektif untuk melawan balik pihak yang melontarkan hinaan.

BACA JUGA:Pernah Ditipu dan Tinggal di Rumah Penuh Kecoak, Ini Profil dan Perjalanan Karier IU yang Berulang Tahun ke-31

BACA JUGA:Bom Kecoak Lumpuhkan Pengadilan

Pola tersebut sudah lama diamati peneliti media dan gerakan sosial. Zeynep Tufekci dalam bukunya, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest, mencatat bahwa tindakan represif atau merendahkan dari otoritas terhadap rakyatnya sendiri kerap menjadi bahan bakar konsolidasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: