Siapa Membuat Batik Tulis Besok?
Menjaga masa depan batik tulis dan cap agar tetap eksis tanpa kehilangan cara pembuatan aslinya.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Batik memang indah. Namun, kehidupan di balik selembar kain itu tidak selalu seindah motifnya. Di tangan pengrajin, selembar batik lahir dari keterampilan, ketelitian, waktu, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sekarang kain itu harus berhadapan dengan pasar yang bergerak cepat. Tekstil murah dari luar negeri, produksi massal, dan batik printing dengan motif menyerupai batik asli membuat pengrajin tradisional harus bekerja lebih keras.
Harga menjadi pertimbangan pembeli. Kecepatan produksi juga semakin penting. Sementara membuat batik tulis tidak bisa dipercepat hanya dengan menambah jumlah pekerja. Lalu bagaimana batik tetap bisa bertahan tanpa kehilangan cara pembuatannya?
Batik tradisional tidak dibuat dengan kecepatan mesin pabrik. Canting digerakkan tangan. Malam dipanaskan. Motif ditorehkan dengan teliti. Setelah itu masih ada proses pewarnaan dan pelorodan.
Waktunya panjang. Karena itu, harga batik tulis dan batik cap memang sulit dibandingkan langsung dengan kain bermotif batik yang dibuat secara massal. Dari luar sama-sama terlihat sebagai kain bermotif. Proses di belakangnya sangat berbeda.
Seorang pengrajin bisa menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan lebih lama, untuk menyelesaikan satu kain. Sementara kain bermotif batik hasil produksi mesin dapat dibuat dalam jumlah besar dengan waktu yang jauh lebih singkat.
BACA JUGA:Makna di Balik Lilitan Kain Batik sebagai Bawahan, Luwes Jadi Gaya Busana Formal dan Informal
Pembeli tentu memiliki pertimbangan sendiri. Harga murah menarik. Apalagi ketika motif yang dilihat hampir sama.
Pengrajin kemudian harus menjelaskan sesuatu yang tidak selalu terlihat dari permukaan kain: bagaimana kain itu dibuat? Di situlah nilai batik tulis dan batik cap perlu terus diperkenalkan kepada konsumen.
Sebagian besar pengrajin batik adalah pelaku UMKM. Mereka memiliki keterampilan membuat batik, tetapi kemampuan modal setiap pengrajin tentu berbeda.
Cara berjualan pun berubah. Dulu pembeli datang ke toko atau sentra batik. Sekarang calon pembeli bisa melihat puluhan produk hanya dengan menggeser layar ponsel.
Foto produk harus menarik. Media sosial perlu diurus. Marketplace harus diperbarui. Kemasan ikut diperhatikan. Pesanan harus dilayani dengan cepat.
Pengrajin yang sehari-hari sudah sibuk dengan canting dan kain kini harus belajar menjadi penjual di dunia digital.
Tidak semua mampu melakukannya sendiri. Padahal peluang pasar terbuka. Batik dapat dijual ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Yang dibutuhkan pengrajin bukan hanya kemampuan produksi, tetapi juga akses terhadap modal, teknologi, pengetahuan, dan pasar.
Batik di Mata Anak Muda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: