Siapa Membuat Batik Tulis Besok?
Menjaga masa depan batik tulis dan cap agar tetap eksis tanpa kehilangan cara pembuatan aslinya.-Nano Banana 2-Nano Banana 2
Pengrajin dapat memperluas barang yang dijual. Kain tetap menjadi produk utama, tetapi tidak harus berhenti di situ. Tas, sepatu, pakaian, aksesori, perlengkapan rumah, dan berbagai produk turunan bisa dikembangkan.
Teknologi digital dapat digunakan untuk memperkenalkan semuanya. Media sosial menjadi etalase. Marketplace menjadi toko. Video pendek dapat menunjukkan proses pembuatan kain.
Cara seperti itu membuat calon pembeli melihat pekerjaan yang biasanya tidak terlihat. Ada tangan yang memegang canting. Ada malam yang harus dijaga suhunya. Ada motif yang harus dibuat perlahan. Ada kain yang belum bisa langsung dijual setelah proses mencanting selesai.
Pembeli yang mengetahui proses tersebut akan lebih mudah memahami harga sebuah batik.
Pengrajin juga perlu memperkuat komunitas dan koperasi. Pembelian bahan baku bersama dapat menekan biaya. Pengetahuan bisa dibagikan. Pemasaran dapat dilakukan bersama. Akses pembiayaan pun bisa menjadi lebih terbuka.
Ketika membicarakan masa depan batik, perhatian sering tertuju pada motif. Padahal ada yang lebih penting: orang yang membuatnya. Motif dapat difoto. Bisa dicetak. Bisa disimpan dalam arsip digital.
Keterampilan membuat batik tidak begitu. Keterampilan itu berada di tangan pengrajin. Dari tangan itulah pengetahuan berpindah kepada generasi berikutnya.
Kalau semakin sedikit anak muda yang mau menjadi pengrajin karena pekerjaan itu tidak memberikan penghasilan yang layak, pengetahuan tersebut ikut berkurang.
Indonesia mungkin masih mempunyai banyak koleksi batik. Tetapi siapa yang akan membuat batik baru? Pertanyaan itu layak dipikirkan sekarang, ketika pengrajin masih ada dan proses pembuatannya masih bisa dipelajari.
Masyarakat juga punya bagian dalam rantai itu. Membeli batik asli, menggunakan produk pengrajin lokal, mengenalkan batik kepada anak-anak, dan memakainya dalam berbagai kesempatan membantu menciptakan pasar bagi pengrajin. Bukan hanya disimpan di lemari.
Selera konsumen berubah. Teknologi berubah. Cara orang membeli barang juga berubah.
Batik ikut bergerak bersama perubahan itu. Motif lama bisa masuk ke desain baru. Teknik tradisional bisa diperkenalkan melalui media digital. Produk yang dulu hanya ditemukan di sentra batik dapat dipasarkan ke kota lain, bahkan ke luar negeri.
Tidak perlu memilih antara tradisional dan modern. Canting tetap bisa digunakan. Penjualannya yang berubah.
Motif lama tetap bisa dipertahankan. Produknya yang dibuat lebih dekat dengan kebutuhan pemakai. Yang perlu dijaga adalah karakter batiknya dan keberadaan orang-orang yang membuatnya.
Batik akan terus mempunyai tempat selama pengrajinnya bisa hidup dari pekerjaan tersebut. Sebab batik bukan cuma soal motif yang terlihat di permukaan kain. Di sana ada tangan yang bekerja, waktu yang dihabiskan, pengetahuan yang diwariskan, dan penghasilan sebuah keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: