Tantangan Besar Pendidikan Dokter
ILUSTRASI Tantangan Besar Pendidikan Dokter.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PENDIDIKAN merupakan fondasi kemajuan suatu bangsa. Di antara berbagai bidang pendidikan, pendidikan dokter memiliki karakteristik yang unik karena tidak hanya bertujuan menghasilkan tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien.
Kompleksitas pendidikan dokter yang meliputi metode pendidikan, regulasi pendidikan, perkembangan dunia kedokteran sudah jauh berbeda dengan dulu. Pendidikan dokter sangat mendapat perhatian karena produknya menyangkut hajat hidup orang banyak.
Pendidikan dokter menjadi salah satu pendidikan yang mendapat tempat khusus di mata masyarakat dan negara. Salah satu bentuk kekhususannya adalah pengaturan pendidikan dokter oleh negara. Salah satu pendidikan profesi yang diatur undang-undang adalah pendidikan dokter.
Dulu diatur Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Dokter. Saat ini UU tersebut dilebur ke dalam UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Pendidikan dokter terdiri atas berbagai strata. Mulai pendidikan dokter umum, pendidikan dokter spesialis, pendidikan dokter subspesialis.
BACA JUGA:Kasus Perundungan dalam Pendidikan Dokter Spesialis: Menempatkan Persoalan secara Proporsional
BACA JUGA:Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis, Apa Solusinya?
Belum lagi pendidikan akademik yang lain, S-2 dan S-3. Di dalam pendidikan keprofesian, masih terbagi menjadi berbagai pendidikan, ada fellowship, pelatihan, dan lain-lain. Seorang dokter yang menempuh pendidikan hingga jenjang spesialis, subspesialis, sekaligus doktor dapat menghabiskan waktu sekitar 17 tahun dalam proses pendidikannya.
Enam tahun untuk mencapai gelar dokter, 5–6 tahun untuk mencapai spesialis, 2–3 tahun untuk mencapai subspesialis, dan 3–4 tahun untuk mencapai gelar doktor. Waktu yang panjang tersebut menggambarkan besarnya investasi tenaga, biaya, dan pengorbanan yang harus dijalani.
Meski demikian, peminat menjadi dokter tetap tinggi. Fakultas kedokteran, baik negeri maupun swasta, tetap dibanjiri pendaftar meski biaya sekolah tidak murah. Bahkan, saat ini banyak muncul fakultas kedokteran baru negeri dan swasta.
Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh beberapa peristiwa pelecehan seks, bullying, dan tindakan tidak etis lainnya yang dilakukan dokter. Prihatin dan sedih dengan tindakan tercela tersebut, layak mendapat kecaman.
BACA JUGA:Akhirnya Pendidikan Dokter Unair Hadir di Banyuwangi
Walau demikian, perlu kita sadari bersama, dokter yang baik jauh lebih banyak jumlahnya, dokter yang mengabdi di daerah terpencil, dokter yang rela hanya tidur 3 jam sehari karena melayani masyarakat sebagai dokter ahli satu-satunya di suatu daerah, termasuk juga dokter yang sedang sekolah spesialis, mereka sebagian besar tidak dibayar, malah tetap harus bayar SPP.
Kalaupun dibayar, mungkin hanya sebesar UMR atau bahkan lebih rendah, tidak cukup menghidupi keluarganya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: