Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis, Apa Solusinya?
ILUSTRASI Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis, Apa Solusinya?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DUGAAN perundungan (bullying) di program pendidikan dokter spesialis (PPDS) kembali terjadi. Kali ini terjadi di PPDS Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi/Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Dr. R.D. A. Kandou, Manado. Korban adalah peserta didik atas nama dr Ardian Rantung yang meninggal dunia.
Ardian diduga meninggal dunia karena mengakhiri hidup sendiri setelah tidak kuat dengan tekanan pekerjaan dan perundungan yang dialaminya. Akibatnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghentikan sementara operasional program pendidikan anestesiologi tersebut.
Perundungan adalah tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang kali oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa lebih kuat atau berkuasa. Tujuan tindakan itu adalah untuk menyakiti, menindas, merendahkan, atau menakuti korban yang dianggap tidak berdaya.
Perundungan berdampak sangat serius bagi kesehatan mental maupun fisik korban. Korban sering kali merasa takut, cemas, mengalami penurunan rasa percaya diri, hingga trauma mendalam.
BACA JUGA:Terbukti dr Aulia, Dokter PPDS Undip, Di-Bully
BACA JUGA:Kontradiksi Kematian Dokter Aulia Risma Lestari
Perundungan di pendidikan dokter spesialis muncul akibat adanya nilai superiority complex dari senior, pengalaman masa lalu mereka yang juga mengalami hal sama atau keinginan untuk mencari keuntungan tertentu dibalik posisi mereka.
Adapun bentuk-bentuk perundungan, pertama, fisik. Itu melibatkan kontak langsung untuk menyakiti tubuh atau merusak barang seperti memukul, menendang, mendorong dan merampas barang.
Kedua, verbal. Perundungan itu menggunakan kata-kata, julukan, atau ancaman untuk merendahkan dan menyakiti korban secara emosional. Ketiga, sosial/psikologis. Yakni, tindakan yang merusak reputasi atau hubungan sosial korban seperti mengucilkan, menyebarkan gosip, dan mempermalukan di depan umum.
Keempat, daring (cyberbullying). Yaitu, perundungan yang terjadi melalui media digital atau platform daring seperti mengirim pesan teror, menyebarkan foto tanpa izin, atau komentar jahat di media sosial.
BACA JUGA:Bullying ala Dokter Spesialis di Kasus Bunuh Diri dr Aulia Risma Lestari
BACA JUGA:Temuan Kemenkes Terkait Dokter Aulia Risma Lestari: Dodge Dipalak Senior Hingga 40 Juta Per Bulan
Di Indonesia, program pendidikan dokter spesialis memiliki berbagai model. Model hospital based dan university based. Selama ini perundungan banyak terjadi di model university based. Yaitu, PPDS harus bayar UKT per semester dan tidak mendapat insentif selama 4–5 tahun pendidikan.
Namun, terlepas dari beragam model tersebut, yang paling penting dan harus diutamakan adalah setiap lulusan dokter spesialis harus selalu mempertahankan tradisi luhur kedokteran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: