Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis, Apa Solusinya?
ILUSTRASI Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis, Apa Solusinya?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Tradisi luhur itu adalah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan tiga prinsip, yaitu transendensi, liberasi, dan humanisasi.
Di antara ketiganya, yang seharusnya menjadi spirit paling utama adalah transendensi. Transendensi adalah konsep yang merujuk pada ide bahwa ada sesuatu di luar atau melampaui batas dunia fisik atau pengalaman manusia yang terbatas.
Itu adalah gagasan tentang eksistensi atau keberadaan sesuatu yang jauh lebih besar, lebih kuat, atau lebih tinggi daripada realitas fisik yang dapat kita amati atau alami.
Dalam bahasa awamnya, transedensi adalah ketuhanan. Setiap dokter umum atau dokter spesialis mesti selalu memiliki prinsip bahwa segala niat dan yang dilakukannya sebagai dokter adalah ingin mencari keridaan Tuhan, bukan mencari ketenaran atau sekadar mencari uang. Setiap pendidikan dokter umum dan dokter spesialis mesti menegaskan hal tersebut sebagai titik tolak pendidikan mereka.
Bila prinsip itu dilakukan atau disadari dengan baik, nilai-nilai luhur seorang dokter dapat dipertahankan. Dengan demikian, marwah dan eksistensi dokter pun akan selalu terjaga.
Namun, bila niat dan kegiatan tidak didasarkan pada keinginan mencari rida Tuhan, akan muncul banyak deteriorasi dalam pendidikan dan pekerjaan profesi dokter. Deteriorasi adalah proses penurunan kualitas atau mutu alias kemunduran.
Harus diakui, dalam pendidikan dokter spesialis memang sering terjadi perundungan. Banyak penyebab hal itu, termasuk akibat pengalaman masa lalu dokter yang melakukan perundungan.
Kalau semua calon dokter spesialis, baik yang menyelenggarakan ataupun mengikuti program pendidikan dokter spesialis menyadari akan nilai transendensi itu, perundungan tidak akan marak atau bahkan hilang.
Bila prinsip luhur dokter tetap dijaga, terutama prinsip ketuhanan, perundungan akan terminimalkan dalam pendidikan dokter spesialis. Semoga tidak ada lagi kasus perundungan peserta PPDS. (*)
*) Pribakti B. adalah dokter dan pemerhati kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: