Harga Telur Anjlok, Faktor Libur MBG, Bulan Muharram, dan Libur Sekolah

Harga Telur Anjlok, Faktor Libur MBG, Bulan Muharram, dan Libur Sekolah

MBG libur, harga telur di Jatim anjlok, para peternak mengalami kerugian-AI Generated-

BLITAR, HARIAN DISWAY – Peternak ayam petelur di berbagai wilayah Jawa Timur kini terus merugi ditengah merosotnya permintaan telur di pasar. 

Di Kabupaten Blitar semisal. Ribuan peternak di wilayah yang menjadi lumbung telur nasional itu kini harus terus merugi. Harga jual telur di tingkat produsen (kandang) terus merosot tajam, hingga menyentuh angka Rp17.000 per kilogram. Kondisi itu membuat para peternak gigit jari karena harga tersebut jauh di bawah biaya produksi.

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofiyasifun mengungkapkan, biaya operasional saat ini tidak tertutupi dengan harga jual yang ada. Menurutnya, untuk mendapatkan margin keuntungan yang wajar, harga di tingkat peternak seharusnya berada di angka minimal Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

"Ini kalau beternak saat ini, kami hanya menghitung kerugian. Bukan lagi menghitung keuntungan," ujar Rofiyasifun saat dikonfirmasi, Minggu 28 Juni 2026.

Rofiyasifun membeberkan setidaknya ada tiga faktor utama yang memicu anjloknya harga telur saat ini. Pertama, minimnya serapan telur untuk program Makan Bergizi (MBG). Kedua, bertepatan dengan momen bulan Suro dalam kalender Jawa yang secara historis membuat tingkat konsumsi atau serapan pasar menurun drastis karena berkurangnya hajatan.

BACA JUGA:Musim Kemarau di Jatim: Harga Beras dan MinyaKita Naik, Harga Telur Justru Anjlok

BACA JUGA:BGN dan Pemprov Jatim Sepakat, Menu Telur di MBG Minimal Seminggu Tiga Kali

Ketiga, bertepatan dengan masa libur panjang sekolah. "Orang tua saat ini lebih memprioritaskan biaya pendaftaran sekolah anak daripada konsumsi telur. Selain itu, banyak masyarakat yang sedang liburan," jelasnya.

Yang membuat peternak lebih geram adalah kebijakan penghentian distribusi telur untuk program MBG selama masa libur sekolah. Rofiyasifun menilai, Surat Edaran (SE) yang menghentikan operasional dapur MBG selama libur sekolah sangat merugikan peternak.

"Juknis BGN sebenarnya menyatakan pelayanan tetap berjalan. Tapi di SE operasional, begitu libur sekolah, dapur MBG ikut diliburkan total. Ini yang membuat serapan hilang," tegasnya.

Menanggapi disparitas harga yang lebar antara harga di produsen Rp17.000 dan eceran pasar Rp22.000-Rp25.000 Rofiyasifun mengaku heran. Ia menyentil fenomena yang menurutnya tidak lazim dalam hukum ekonomi.

BACA JUGA:Kemendag Siapkan Intervensi Atasi Anjloknya Harga Telur dan Daging Ayam

BACA JUGA:Ironi Harga Telur

"Indonesia katanya swasembada telur dan daging ayam, tapi harganya hancur. Sebaliknya, beras dan jagung katanya swasembada, harganya malah tinggi. Ini mulut pejabat atau hukum ekonomi yang salah? Padahal, supply dan demand adalah instrumen paling jujur dalam ekonomi," sindir Rofiyasifun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: