Ketika AI Menjadi Teman Curhat

Ketika AI Menjadi Teman Curhat

ILUSTRASI Ketika AI Menjadi Teman Curhat.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PERNAHKAH kita membayangkan betapa luar biasanya perubahan cara manusia bercerita dari waktu ke waktu? Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan aktivitas berbagi kisah. Sejak zaman prasejarah, nenek moyang kita berkumpul mengelilingi api unggun, berbagi pengalaman, keluh kesah, dan harapan setelah seharian berburu. 

Aktivitas bercerita bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan juga perekat ikatan komunal. Kini kehangatan api unggun itu bertransformasi menjadi cahaya biru layar gawai, sementara mesin perlahan hadir sebagai ”sahabat” baru manusia.

Perubahan tersebut dapat dipahami melalui perspektif psikologi humanistik dan teori kebutuhan manusia bahwa setiap individu memiliki kebutuhan mendasar untuk didengar, dipahami, diterima, dan memperoleh rasa aman secara emosional. 

Dalam konteks ini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dipersepsikan sebagai ruang aman psikologis karena mampu merespons tanpa menghakimi dan tersedia hampir setiap saat. Interaksi dengan AI pun dapat memberikan pengalaman yang menyerupai relasi sosial.

BACA JUGA:Etika Kreator dan Affiliate Marketer di Tengah Godaan Konten AI

BACA JUGA:Era Generative AI, Kuliah Bahasa Indonesia Justru Krusial!

Normalisasi curhat kepada AI seperti ChatGPT, Replika, atau Pi menjadi salah satu pemandangan budaya masa kini yang menarik. Di tengah kesibukan dan kompleksitas kehidupan modern, banyak individu yang merasa lebih nyaman mengungkapkan rahasia terdalam kepada mesin. 

Dari sudut pandang antropologi, kita sedang menyaksikan lahirnya bentuk interaksi pseudososial baru. Manusia mulai memberikan atribut ”bernyawa” kepada entitas yang sebenarnya merupakan sistem algoritmik pemroses bahasa.

Dalam perspektif psikologi sosial melalui media equation theory, manusia cenderung merespons teknologi yang berkomunikasi secara natural seolah-olah sedang berinteraksi dengan makhluk sosial. 

Hal itu diperkuat oleh kecenderungan antropomorfisme dalam psikologi kognitif, yaitu kecenderungan manusia memberikan karakteristik, niat, dan kualitas emosional kepada entitas nonmanusia. 

BACA JUGA:Dolar AI di Kamar Kos, Kopi Susu di Warung Desa

BACA JUGA:Seni di Antara Manusia dan Kecerdasan Buatan

Ketika AI mampu menggunakan bahasa, merespons secara kontekstual, dan menampilkan komunikasi yang menyerupai empati, manusia dengan mudah membaca respons algoritmik sebagai tanda kehadiran sosial.

Di sinilah muncul paradoks psikologis. AI dapat menjadi ruang untuk merefleksikan diri, mengurai emosi, dan memperoleh dukungan awal. Namun, AI juga berpotensi menggantikan interaksi manusia apabila dijadikan pelarian dari kompleksitas relasi nyata. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: