Proyek Homo Deus

Proyek Homo Deus

ILUSTRASI Proyek Homo Deus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA era yang serba memuja kecepatan, kemampuan untuk menjalani slow living adalah kekuatan. Ketika semua dituntut untuk mengejar validasi, kemampuan untuk mengenali nilai diri tanpa tepuk tangan adalah bentuk kemerdekaan. 

Pun, saat segalanya makin dikendalikan oleh algoritma, kemampuan untuk tetap menentukan arah hidup secara mandiri mungkin merupakan bentuk tertinggi dari kebebasan. 

Itulah gambaran tentang pergeseran peradaban dan gaya hidup manusia sebagaimana yang dijabarkan dalam Homo Deus: A Brief History of Tomorrow karya Yuval Noah Harari.

Artikel ini tidak sedang mempromosikan buku bergenre filsafat kontemporer tersebut, tetapi mengajak kita merenungi kembali makna hidup manusia di era ultramodern yang tidak lagi hanya berusaha bertahan hidup, tetapi juga ingin merengkuh proyek masa depan yang sangat ambisius dan terkesan ”fiktif”. 

BACA JUGA:Makna Bekerja dan Homo Inutilis

BACA JUGA:Batin Tulang Belulang Homo Erectus, si Manusia Jawa

Yakni, memperpanjang usia, mengkloning diri sendiri, koloni hunian di planet Mars, meningkatkan kemampuan superkognitif, mengendalikan emosi subconscious, dan menciptakan ekosistem kehidupan yang dianggap makin mendekati kesempurnaan.

Namun, makna homo deus dalam konteks kehidupan peradaban hari ini memunculkan sebuah paradoks. Eksistensi manusia sebagai aktor peradaban makin kuat berkat dukungan teknologi canggih, tetapi belum tentu makin kuat secara psikis. 

Hari ini manusia kian dimanjakan oleh kecerdasan buatan, algoritma, media sosial, dan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Namun, pada saat yang bersamaan, manusia hidup dalam budaya serbacepat, serbainstan, takut tertinggal, dan dahaga akan pengakuan sosial. 

Tebersit rasa ingin tahu yang sangat menggelitik: manusia macam apa sebenarnya yang sedang ”difabrikasi” oleh peradaban ultramodern dewasa ini?

Di sinilah konsep homo deus menjadi relevan. ”Manusia dewa” bukanlah semata-mata manusia yang memiliki kekuatan super, melainkan manusia yang piawai dalam memanfaatkan iptek (bioteknologi, nanoteknologi, rekayasa genetik, dan algoritma) dalam meningkatkan kapasitas dirinya. 

Gawai cerdas membuat komunikasi lebih cepat, tetapi tidak selalu membuat manusia lebih dekat. Media sosial memperluas jaringan pertemanan, tetapi juga menciptakan ketergantungan secara terus-menerus untuk mendapatkan likes, komentar, dan validasi. 

Algoritma memudahkan manusia menentukan pilihan, tetapi sekaligus berpotensi mendorong manusia memasrahkan semua keputusan kepada mesin. Alhasil, kemajuan kemampuan manusia sekaligus berjalan beriringan dengan tereduksinya sifat kemandirian. Itulah paradoks yang luput dari kesadaran manusia modern.

Paradoks tersebut terlihat jelas lagi dalam budaya instant gratification. Makanan harus cepat tersaji, informasi harus segera diketahui, pesan harus segera dibalas, hiburan tersedia tanpa delay, bahkan kesuksesan pun sering dipersepsikan ”harus” berlangsung secepat-cepatnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: