Makna Bekerja dan Homo Inutilis
ILUSTRASI Makna Bekerja dan Homo Inutilis.-Ilustrasi Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PADA pekan pertama Maret 2026, dua berita mendominasi ruang publik sekaligus. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran menutup jalur energi di Selat Hormuz, mendorong ketidakmenentuan harga energi dalam hitungan hari. Beberapa perusahaan di berbagai industri, Chandra Asri, misalnya, mengumumkan status keadaan kahar.
Di saat yang sama, kontrak antara Departemen Perang Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan AI memperlihatkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan.
Kalau institusi yang paling konservatif dan paling tinggi taruhannya di dunia sudah mengintegrasikan AI ke dalam operasinya, tidak ada alasan untuk berpikir sektor industri dan tenaga kerja sipil akan bergerak lebih lambat.
Eskalasi konflik di negara-negara Teluk bersifat akut dan terukur. Ketika pasokan energi terganggu, biaya produksi naik, margin tergerus, dan perusahaan pasti mencari efisiensi. Dalam kondisi seperti itu, keputusan mengotomasi proses yang selama ini dikerjakan manusia bukan lagi pilihan jangka panjang.
Efisiensi adalah respons jangka pendek yang paling logis. Konflik geopolitik kini berfungsi sebagai akselerator dari proses yang sudah dan sedang berjalan, yakni perpindahan tugas-tugas manusia ke mesin.
Laporan ILO 2023 tentang Generative AI and Jobs mencatat sekitar 300 juta pekerjaan di negara-negara maju terpapar otomasi berbasis AI generatif. Tapi, yang lebih penting adalah cara keterpaparan itu bekerja. AI tidak menggantikan pekerjaan secara langsung.
Ia ”mengubah” sebuah pekerjaan (work) menjadi hanya serangkaian tugas (task), lalu mengambil alih semua tugas dimulai yang paling dapat diprediksi, direpitisi, dan diotomasi.
MIT Sloan Workforce Intelligence menyebut kondisi itu bukan penggantian, melainkan augmentation yang berarti ”fewer people doing more complex work in shorter timeframe”. Satu orang dengan AI mengerjakan apa yang dahulu butuh tiga sampai empat orang.
Sistem AI agentic yang sudah berjalan mampu menjalankan rangkaian tugas secara mandiri mulai dari riset, analisis, penyusunan dokumen, bahkan pengambilan keputusan berbasis aturan, tanpa perlu manusia di setiap langkahnya.
Bank Dunia dalam laporannya tahun 2024 sudah memperingatkan bahwa teknologi digital sedang mengompresi pekerjaan yang bersifat rutin (routine cognitive and physical tasks) di sektor manufaktur dan jasa sekaligus.
Yang diperkirakan tumbuh hanyalah pekerjaan di segmen nonrutin dan melibatkan aspek emosional (empati), segmen yang tidak otomatis dapat diisi oleh mayoritas 190 juta angkatan kerja Indonesia yang ada sekarang.
MAKNA BEKERJA
Sampai di sini, perbincangan itu masih di wilayah yang familier. Angka pengangguran, elastisitas rekrutmen tenaga kerja, atau kebutuhan reskilling.
Namun, ada pertanyaan yang lebih dalam, lebih jarang, dan terasa berat untuk diajukan: apa yang terjadi pada manusia ketika bekerja –sebagai aktivitas, sebagai identitas sosial, sebagai sumber makna– mulai dikerjakan oleh mesin dengan AI?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: