Sekampoeng Lengkapi Proses Pendidikan, Ajak Berdiskusi dan Belajar di Luar Sekolah
Sekampoeng menghadirkan nuansa berkumpul keluarga di perkotaaan, membahas materi pendidikan di sekolah modern saat ini. - Ilmi Bening - Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Hak untuk belajar mutlak harus diberikan kepada anak-anak bangsa. Berbagai cara ditempuh untuk menyajikan ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam versi yang menarik dan tidak membosankan.
Dalam upaya mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Sekampoeng berkolaborasi dengan Komunitas Belajar Kelas Asyik (Klasik) dan Pendidikan Lestari menghadirkan ruang edukasi yang juga pas menjadi tempat berkumpul.
Berlokasi di tengah Kota Surabaya, program edukasi Sekampoeng lahir dari keprihatinan terhadap lingkungan pendidikan di sekolah dewasa ini.
Masyarakat dan bahkan sekolah menganggap bahwa aktivitas belajar hanya sebatas guru yang mengajar dan menuliskan materi di papan. Lalu, para murid menghafalkan agar bisa mengerjakan soal-soal ujian.
BACA JUGA:Prabowo Instruksikan Sekolah di Indonesia Ajarkan Bahasa Prancis, Ini Alasannya!
Padahal, proses belajar tidak sesederhana itu. Apalagi, jika tujuannya bukan sekadar nilai, melainkan pemahaman dan penguasaan ilmu.
"Ada peneliti yang mengatakan bahwa pemahaman atas sistem belajar yang seperti itulah yang membuat masyarakat khawatir proses belajar dan mengajar akan digantikan oleh artificial intelligence (AI)," ungkap Iman Harymawan, founder Pendidikan Lestari, saat soft launching pada Minggu, 31 Mei 2026.
Dengan definisi belajar yang sedatar itu, tidak heran jika masyarakat merasa terancam oleh AI. "Sebab, sistem pendidikan hanya melatih otak, bukan kedalaman berpikir," ungkapnya.
Hari itu, peserta mendapatkan pandangan dan merefleksikan dunia pendidikan di Indonesia dan global melalui tayangan video. Video itu menyuguhkan potret kegiatan sekolah yang dimulai setiap pagi.
BACA JUGA:Sekolah Rakyat di Jatim Gunakan Kurikulum Nasional, Gaji Guru Dipastikan Tidak Dirapel
BACA JUGA:BGN Usulkan Pendidikan Gizi Masuk Kurikulum Pendidikan Nasional
"Kriiiiing…!" Lonceng berbunyi. Anak-anak harus berbaris rapi dengan seragam yang rapi. Begitulah cara sekolah yang secara formal, mendidik anak-anak untuk disiplin. Semuanya tampak normal.
Kenyataannya, sistem tersebut tidak lahir secara alami. Di balik sistem itu, ada rencana proyek besar yang dimulai lebih dari 100 tahun yang lalu. Bukan oleh pendidik tetapi oleh para pelaku industrialis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: