CEO Aprilia Desak Jorge Martin dan Bezzecchi Berdamai

CEO Aprilia Desak Jorge Martin dan Bezzecchi Berdamai

Massimo Rivola, saat merangkul Marco Bezzecchi di garasi Aprilia Racing. --Twitter Ruben Canales @RubCanales

HARIAN DISWAY - Menjelang bergulirnya GP Inggris pada 7–9 Agustus mendatang, CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, melayangkan ancaman terbuka ke garasinya sendiri: hentikan perang dingin antar-pembalap dan keretakan staf teknis sekarang juga, atau bersiap melihat Marc Marquez dan Ducati merebut gelar juara dunia MotoGP 2026 dengan mudah.

​Pernyataan blak-blakan Massimo Rivola ini dipicu oleh suasana "panas" dan tidak sehat di dalam garasi Aprilia. Prahara internal ini dinilai berpotensi menggagalkan ambisi besar Aprilia untuk mengunci gelar juara dunia, meski dua pembalap utamanya, Jorge Martin dan Marco Bezzecchi, sejatinya tampil kompetitif.

​Jorge Martin sebenarnya memasuki jeda musim panas sebagai pemuncak klasemen sementara dengan koleksi 208 poin dari 11 seri. Namun, dominasi sang pembalap mulai terancam oleh kebangkitan Marc Marquez bersama Ducati. Marquez merangsek ke posisi ketiga dengan 190 poin, hanya terpaut 18 angka dari Martin.

Menariknya, di antara Martin dan Marquez, ada nama Ai Ogura. Bintang tim satelit Trackhouse Aprilia tersebut secara mengejutkan berada di peringkat kedua dengan 194 poin dan terus memberikan tekanan ke tim pabrikan.

Sementara itu, Marco Bezzecchi,.yang sempat difavoritkan di awal musim,.harus melorot ke posisi keempat (186 poin) akibat rentetan kecelakaan fatal, dimulai dari GP Hungaria.

BACA JUGA:KTM Ingkar Janji? Maverick Vinales Bongkar Skandal Pembatalan Kontrak Sepihak!

BACA JUGA:Bocoran Tes Tertutup Brno: Pirelli Sebut 2 Pabrikan Ini Paling Siap di MotoGP 2027

Perang Dingin di Garasi Noale

​Kekhawatiran Rivola tak cuma soal catatan waktu di lintasan, tetapi juga situasi di luar trek. Rumor di paddock menyebutkan bahwa garasi Aprilia kini diselimuti ketegangan mendalam, baik antar-pembalap maupun antarseksi staf teknis.

​Rivalitas sengit antara Martin dan Bezzecchi dikabarkan telah merusak keharmonisan tim. Keduanya bahkan dilaporkan sudah memutuskan komunikasi pascabentrokan di Budapest. Keretakan internal inilah yang memberi panggung bagi Ducati dan Marc Marquez untuk memangkas jarak dan memanfaatkan situasi.

​“Satu-satunya cara untuk memaksimalkan potensi RS-GP adalah dengan menghilangkan racun (toxic environment) di dalam tim,” tegas Massimo Rivola.

​Bos asal Italia tersebut menekankan bahwa Martin, Bezzecchi, dan Ogura wajib berkolaborasi, terbuka dalam berbagi data balap, serta saling mendukung jika ingin mematahkan dominasi Marquez. Tanpa keharmonisan, Rivola yakin gelar juara dunia 2026 akan melayang begitu saja.


Marco Bezzecchi, saat latihan mandiri dengan RSV4, jelang GP Inggris 2026--Twitter German Garcia Casanova @germax33

Dihantam Badai Cedera

​Masalah Aprilia kian pelik lantaran badai cedera yang menimpa para penunggang RS-GP. Martin belum bertarung dalam kondisi fisik 100 persen akibat sisa cedera dari musim 2025.

​Sementara itu, Bezzecchi harus menempuh jalan lebih terjal setelah menjalani operasi patah tulang selangka kiri akibat kecelakaan di kualifikasi GP Jerman.

Meski sudah sempat menguji fisik dengan superbike RSV4, kepastian kembalinya Bezzecchi di GP Inggris (Silverstone) masih menunggu lampu hijau dari Direktur Medis MotoGP, Dr. Angel Charte.

BACA JUGA: Nicolo Bulega Tinggalkan WorldSBK Demi VR46 Racing, Mimpi Jadi Nyata

BACA JUGA:Pangkas Liburan, Marc Marquez Genjot Latihan Ducati V2 di Aragon

Kini, bola panas ada di tangan Aprilia. Momen di GP Inggris menjadi titik krusial bagi pabrikan Noale tersebut untuk berbenah.

​“Kita harus mengakhiri suasana beracun ini dan menyatukan semua orang,” tegas Massimo Rivola.

​Gagal menyatukan persepsi dan meredam ego internal, sama saja menyerahkan trofi juara dunia MotoGP 2026 kepada Marc Marquez dan Ducati di atas nampan emas.(*) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: