Menfess dan Budaya Saling Curiga

Menfess dan Budaya Saling Curiga

ILUSTRASI Menfess dan Budaya Saling Curiga.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DI LINGKUNGAN perguruan tinggi, menfess (mention dan confess) kini menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Di Universitas Airlangga, misalnya, ruang anonim semacam itu dapat menjadi tempat mahasiswa menyampaikan cerita, kritik, keluhan, pengalaman, maupun informasi yang sulit disampaikan secara langsung. 

Kehadirannya menunjukkan bahwa ruang komunikasi mahasiswa ikut berubah mengikuti perkembangan media sosial.

Bagi sebagian mahasiswa, menfess memberikan keberanian untuk bersuara tanpa harus membuka identitas. Mahasiswa yang tidak nyaman berbicara secara terbuka tetap memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan keresahannya. Dalam pengertian ini, menfess dapat dilihat sebagai salah satu bentuk ruang demokrasi digital di lingkungan perguruan tinggi.

Namun, ruang tersebut juga membawa persoalan baru. Informasi anonim tidak selalu memiliki sumber yang jelas, sementara sebuah cerita dapat dengan cepat menyebar dan berubah menjadi dugaan, tuduhan, bahkan dianggap sebagai fakta. 

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah menfess baik atau buruk, melainkan bagaimana mahasiswa membaca informasi yang muncul di dalamnya.

Ketika Cerita Menjadi Fakta

Salah satu persoalan dalam budaya menfess muncul ketika cerita langsung dianggap sebagai kebenaran. Tulisan yang menggunakan banyak detail, terdengar meyakinkan, atau memperoleh banyak tanggapan sering kali dianggap memiliki dasar yang kuat. Padahal, ramainya sebuah informasi tidak otomatis membuktikan bahwa informasi tersebut benar.

Persoalan menjadi lebih rumit ketika sebuah menfess menyebut nama atau ciri tertentu yang membuat pembaca mengarah kepada seseorang. 

Orang yang disebut belum tentu mengetahui persoalan tersebut, sedangkan pembaca sudah membangun kesimpulan berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap. Dari sini, budaya saling curiga dapat tumbuh hanya dari satu cerita yang belum diperiksa.

Padahal, pendekatan ilmu sejarah mengajarkan bahwa sebuah sumber tidak langsung diterima begitu saja. Dalam penelitian sejarah, sumber diperiksa asal-usulnya, dilihat konteksnya, kemudian dibandingkan dengan sumber lain. Prinsip sederhana tersebut sebenarnya sangat relevan untuk menghadapi derasnya informasi di ruang digital.

Kritik Sumber di Ruang Digital

Kritik sumber dapat dimulai dengan pertanyaan sederhana: informasi ini berasal dari siapa? Apakah pengirim mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan, mendengar dari orang lain, atau sekadar meneruskan informasi yang sudah beredar? Asal informasi penting diperhatikan karena kedekatan seseorang dengan suatu peristiwa dapat memengaruhi nilai keterangan yang disampaikannya.

Selanjutnya, isi dan konteks informasi juga perlu diperiksa. Apakah kronologinya jelas? Adakah bukti yang mendukung? Jika yang diberikan hanya tangkapan layar, apakah percakapan tersebut ditampilkan secara utuh? 

Potongan informasi dapat memberikan kesan yang berbeda ketika dilepaskan dari konteks awalnya. Karena itu, tampilan yang meyakinkan tidak cukup menjadi alasan untuk langsung percaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: