Menfess dan Budaya Saling Curiga

Menfess dan Budaya Saling Curiga

ILUSTRASI Menfess dan Budaya Saling Curiga.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Cara tersebut tidak berarti semua menfess harus dicurigai atau dianggap salah. Kritik sumber justru membantu menempatkan informasi secara lebih proporsional. 

Ada informasi yang memiliki dasar kuat, ada yang masih membutuhkan verifikasi, dan ada pula yang sebaiknya tidak disebarkan karena sumber maupun konteksnya belum jelas.

Mencari Sumber, Bukan Menuduh

Ketika sebuah menfess menjadi ramai, perhatian kadang bergeser dari isi persoalan menuju pertanyaan tentang siapa pengirimnya. Gaya bahasa, kedekatan dengan persoalan, hingga dugaan hubungan tertentu mulai digunakan untuk menebak identitas. Padahal, petunjuk semacam itu belum tentu cukup untuk memastikan siapa yang berada di balik sebuah tulisan.

Dalam pendekatan ilmu sejarah, petunjuk memang dapat digunakan untuk membangun dugaan, tetapi dugaan tidak sama dengan kepastian. Karena itu, memeriksa sumber tidak seharusnya berubah menjadi perburuan terhadap orang yang dicurigai. 

Yang perlu dicari adalah dasar informasi dan bagaimana informasi tersebut diperoleh, bukan sekadar siapa yang mungkin menulisnya.

Hal itu penting karena mengetahui identitas pengirim belum tentu menjawab apakah isi tulisannya benar. Sebaliknya, informasi anonim tetap dapat diperiksa melalui bukti, konteks, dan sumber pembanding yang tersedia. 

Dengan demikian, kritik sumber tidak diarahkan untuk membuka identitas seseorang, tetapi untuk menguji seberapa jauh informasi dapat dipercaya.

Membandingkan Satu Cerita

Dalam kajian sejarah, satu sumber biasanya tidak cukup untuk menjelaskan sebuah peristiwa secara utuh. Keterangan dari satu pihak perlu dibandingkan dengan sumber lain untuk melihat kesesuaian, perbedaan, maupun bagian yang masih belum dapat dipastikan. Prinsip itu juga dapat digunakan ketika mahasiswa menemukan cerita di menfess.

Jika sebuah tulisan menceritakan suatu kejadian, kita dapat melihat apakah terdapat informasi lain yang mendukungnya. Jika terdapat tangkapan layar, konteks percakapannya dapat diperiksa. 

Jika ada pihak yang disebut dalam cerita, keterangannya juga perlu dipahami karena sebuah peristiwa dapat dilihat secara berbeda oleh orang yang mengalaminya.

Perbedaan keterangan tidak selalu berarti salah satu pihak pasti berbohong. Justru perbedaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah persoalan perlu dilihat dari berbagai sisi. 

Dengan membandingkan sumber, kita tidak hanya mencari informasi yang sesuai dengan dugaan awal, tetapi juga membuka kemungkinan bahwa cerita yang beredar belum sepenuhnya menggambarkan peristiwa.

Sikap HMD Ilmu Sejarah Unair

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: