Kebun Komunitas: Ruang Inklusi dan Konservasi Masa Depan
BANKSIA, tanaman khas Australia dengan bunga berbentuk tabung.-Yuni Sari Amalia untuk Harian Disway-
PELESTARIAN tanaman asli tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan, tetapi juga dengan cara manusia membangun hubungan dengan alam dan komunitas. Pemahaman tersebut kami peroleh ketika mengikuti kunjungan dalam Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Internasional Universitas Airlangga ke Murdoch Community Garden, Perth, Australia, pada Selasa, 28 Juli 2026.
Bagi kami, kegiatan itu bukan sekadar kunjungan lapangan, melainkan juga pengalaman belajar yang mempertemukan konservasi, ketahanan pangan, kesehatan, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi lintas budaya dalam satu ruang.
Kegiatan dipandu oleh Ketua Komite Murdoch Community Garden Chloe Elsegood. Kami diperkenalkan pada tanaman asli Australia serta prinsip pengelolaannya. Salah satu tanaman yang menarik perhatian adalah banksia, tanaman khas Australia dengan bunga berbentuk tabung.
Kami juga diperkenalkan dengan Anigozanthos manglesii atau mangles kangaroo paw yang memiliki bunga merah dan hijau menyerupai kaki kanguru. Bunga tersebut menjadi sumber nektar bagi jenis burung.
BACA JUGA:ASDP Perkuat Konservasi Terumbu Karang di Pesisir Bau-Bau
BACA JUGA:Indonesia Kirim Komodo ke Jepang, Kerja Sama Konservasi dan Diplomasi Hijau Dimulai
Dari penjelasan itu, kami memahami bahwa setiap tanaman memiliki fungsi ekologis dan menjadi bagian dari hubungan antara tanah, serangga, burung, air, dan manusia.
Kami juga mempelajari program revegetasi melalui pembangunan Hutan Miyawaki dan penanaman 1.759 benih tanaman asli. Metode Miyawaki menerapkan penanaman berbagai spesies secara rapat untuk mempercepat terbentuknya ekosistem hutan yang menyerupai kondisi alami.
Chloe menjelaskan bahwa spesies yang ditanam dipilih berdasar survei terhadap kawasan semak belukar alami atau remnant bushland. Bagi kami, pendekatan itu menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan harus dilandasi pengetahuan terhadap karakter wilayah, bukan sekadar menanam pohon tanpa mempertimbangkan kesesuaian ekologisnya.
Pembelajaran kami tidak berhenti pada teori. Bersama para volunter, kami menanam tanaman asli, menyemai benih, dan menyiangi gulma di kebun. Melalui aktivitas tersebut, kami belajar bahwa merawat kebun membutuhkan ketelitian, kesabaran, konsistensi, dan kerja sama.
BACA JUGA:Kematian Gajah Super Tusk Craig Jadi Simbol Sukses Konservasi Kenya
BACA JUGA:Kojirama Siap Ubah 90 Hektare Lahan Gambut di Kaltim jadi Area Konservasi
Hal sederhana seperti menyiapkan media tanam, menjaga jarak antarbenih, atau membersihkan gulma menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman. Pengalaman langsung itu membuat pengetahuan mengenai budi daya dan konservasi lebih mudah dipahami karena kami terlibat dalam prosesnya, tidak hanya mengamati.
Hal yang paling berkesan adalah mengetahui bahwa Murdoch Community Garden dikelola para volunter.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: