Makna Bekerja dan Homo Inutilis

Makna Bekerja dan Homo Inutilis

ILUSTRASI Makna Bekerja dan Homo Inutilis.-Ilustrasi Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

Dalam konstruksi sosial kita, bekerja bukan sekadar menghasilkan uang. Ia memberikan struktur kepada waktu, sarana membuktikan kompetensi, dan alasan psikologis untuk merasa berguna. 

Richard Sennett dalam The Craftsman berargumen bahwa kemampuan melakukan sesuatu dengan baik adalah kebutuhan manusia yang subtil. Bukan soal gaji, melainkan soal martabat dan posisi dalam hierarki sosial. 

AI mengancam fondasi itu tidak dengan merebut gaji, tetapi dengan membuat kemampuan dan keahlian manusia terasa tidak eksklusif lagi. 

Ketika mesin dapat menulis laporan, merancang desain, serta menganalisis data dalam jumlah besar dan dalam hitungan detik, apa yang membuat seorang manusia tak tergantikan?

Ada dimensi lain yang hampir tidak pernah masuk perdebatan kebijakan. Dengan bekerja, sebenarnya manusia juga belajar. Junior belajar kepada seniornya. Bawahan belajar kepada atasan. 

Tugas-tugas entry-level yang kini diambil alih AI adalah anak tangga pertama di mana generasi baru belajar membangun dan mengembangkan dirinya. Kalau anak tangga itu hilang, mereka mungkin tetap dipekerjakan untuk mengawasi output dari mesin dan AI. 

Tapi, mengawasi sesuatu yang tidak dipahami sepenuhnya adalah jebakan kompetensi yang tidak akan tampak di statistik mana pun dalam waktu dekat.

Itulah titik terdalam dari seluruh diskursus ini. Pertanyaan filosofis pada definisi ”bekerja”.

Bank Dunia sudah memperingatkan bahwa produktivitas dan penyerapan kerja sedang mengalami keterpisahan. Output perusahaan tumbuh, tetapi pendapatan pekerja tidak ikut tumbuh. 

Bila tren itu berlanjut, Indonesia berpotensi mengalami apa yang digambarkan Olivier van Duüren sebagai munculnya homo inutilis. Bukan kelas yang tidak terdidik. Bukan kelas yang malas. Melainkan, kelas yang secara ekonomi tidak diperlukan. 

Mereka terampil, kompeten, tetapi tidak punya tempat dalam sistem produksi yang kian mengandalkan mesin dan AI. 

Yuval Noah Harari menyebutnya useless class, kelas yang muncul bukan karena kegagalan individu, melainkan karena desain makroekonomi yang mendewakan efisiensi dan melupakan inklusi. 

Kalau diagnosis suram itu benar, kebijakan reskilling yang kita andalkan selama ini hanya mengisi kembali seseorang ke dalam sistem yang sedang mengecil, bukan memperbesar sistemnya untuk menampung lebih banyak angkatan kerja.

Carlos Perez dalam The End of Earning menyebut itu bukan lagi krisis pekerjaan, melainkan krisis tujuan. Selama ini konstruksi sosial telah mendefinisikan nilai manusia melalui produktivitas dengan bekerja. Dan, kehadiran AI sedang mempertanyakan definisi itu dari dalam dengan cara yang dingin.

RESPONS KEBIJAKAN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: