Makna Bekerja dan Homo Inutilis
ILUSTRASI Makna Bekerja dan Homo Inutilis.-Ilustrasi Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Respons kebijakan sejauh ini masih di permukaan. Literasi digital, pelatihan ulang, peningkatan keahlian, tata kelola data; semua itu penting dan perlu. Namun, kebijakan reaktif itu adalah bantalan jangka pendek, mengurangi risiko dan intensitas guncangannya.
ILO merekomendasikan standar ”human-in-the-loop” untuk keputusan-keputusan yang berdampak tinggi, dan Bank Dunia memperingatkan perlunya memutus lingkaran setan di mana upah stagnan menekan konsumsi, kemudian menekan penyerapan kerja, dan kembali menekan upah.
Sistem perlindungan sosial kita dirancang untuk pekerja tetap di sektor formal, sebuah kategori yang sedang menyusut. Dan, akan lebih menyusut lagi karena ketidakpastian global. Merevisinya bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.
Tapi, yang paling mendesak harus mulai dibahas ialah mungkin kita perlu memulai dengan serius mendefinisikan ulang apa yang kita hargai dari kerja manusia.
Sistem pendidikan kita masih menyiapkan generasi untuk menjadi pekerja yang efisien, tanpa mempertanyakan apakah efisiensi itu masih menjadi keunggulan kompetitif manusia di dunia yang berjalan dengan cepat menuju masa depan yang tidak pernah terbayangkan.
Eskalasi konflik di negara-negara Teluk akan mereda. Harga energi akan mengalami koreksi. Tapi, pertanyaan yang ditinggalkan disrupsi AI tidak akan selesai dengan gencatan senjata. Kalau kita baru mulai menjawabnya setelah kelas homo inutilis itu sudah terbentuk, itu berarti kita sudah terlambat. (*)
*) M. Hasanudin adalah analis di LPPM Stikosa-AWS dan Kolokium Institute.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: