Matinya Kepakaran Kita?
tangkap layar video Presiden Prabowo Subianto.--

Machsus *)--
Kita hidup pada zaman yang serba tahu. Atau, setidaknya, zaman ketika kita merasa serba tahu. Ketika Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini melontarkan ungkapan yang kemudian viral, “saking pintarnya jadi goblok”, dalam kritiknya terhadap sejumlah pihak yang disebut pakar. Perdebatan tentang kepakaran pun menemukan momentumnya kembali.
Hampir semua pertanyaan kini dapat dijawab dalam hitungan detik. Mesin pencari dan kecerdasan buatan membuat informasi seolah berada dalam genggaman. Namun, di situlah paradoksnya, yakni semakin mudah memperoleh informasi, semakin mudah pula kita merasa telah memahami semuanya.
Tom Nichols dalam The Death of Expertise (2017) mengingatkan tentang menguatnya penolakan terhadap pengetahuan yang dibangun melalui proses kepakaran. Masalah muncul ketika serpihan informasi dan opini ditempatkan setara dengan pengetahuan yang lahir dari pendidikan, penelitian, pengalaman, dan pengujian bertahun-tahun.
Lalu, apakah kita sedang memasuki era matinya kepakaran? Barangkali tidak. Para ahli masih belajar, meneliti, dan menghasilkan pengetahuan. Yang perlahan memudar justru kesediaan kita untuk mengakui dan menempatkan kepakaran secara proporsional.
BACA JUGA:Menuju E10 & E20, Pakar ITS Ungkap Tantangan Ekosistem Bioetanol Nasional
BACA JUGA:Prabowo Benci Pakar Atau Sekadar Tiru Gaya Trump?
Ilusi Pengetahuan Digital
Informasi, pengetahuan, dan kepakaran saling berhubungan, tetapi tidak sama. Informasi dapat diperoleh dengan cepat. Pengetahuan membutuhkan proses memahami. Kepakaran membutuhkan keduanya, ditambah pengalaman, pengujian, koreksi, disiplin, dan waktu. Dunia digital sering mengaburkan batas tersebut.
Kita membaca beberapa artikel, menonton sejumlah video, mengikuti percakapan media sosial, lalu merasa cukup memahami persoalan. Di sinilah ilusi pengetahuan muncul: merasa telah memahami sesuatu hanya karena telah memperoleh banyak informasi. Lebih rumit lagi, popularitas pendapat kerap diperlakukan sebagai ukuran kebenaran.
Di ruang digital, argumen ilmiah yang membutuhkan data dan konteks harus bersaing dengan opini singkat yang emosional. Pengetahuan membutuhkan kesabaran, sedangkan algoritma memberi penghargaan kepada kecepatan dan perhatian. Akibatnya, yang paling sering terdengar belum tentu yang paling tahu; yang paling banyak diikuti belum tentu yang paling memahami.
Internet sebenarnya hanya memperbesar kecenderungan manusia untuk mencari informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri. Lantaran itu, tantangan kita bukan lagi sekadar memperoleh informasi, melainkan memilah sumber, memahami konteks, menguji bukti, dan menyadari batas pengetahuan sendiri.
BACA JUGA:Singgung Pakar Pengkritik MBG, Prabowo: Saking Pintarnya Jadi Goblok
BACA JUGA:Apa yang Bikin Publik Figur Indonesia Tone Deaf? Ini Kata Pakar Sosiologi dan Komunikasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: