Prabowo Benci Pakar Atau Sekadar Tiru Gaya Trump?
tangkap layar video Presiden Prabowo Subianto.--

Henri Subiakto.--
Prabowo nampaknya tidak suka bahkan benci dengan pakar, terutama pada mereka yang mengritiknya. Sikap seperti ini sering disebut anti-intellectualism, merujuk pada orang atau pemimpin yang bersikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang disebut pakar.
Pakar atau kaum intelektual dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari “rakyat biasa,” terlalu teoritis, tidak praktis, atau bahkan berbahaya.
Dalam konteks politik modern atau demokratis, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan retorika populis dari pemimpin yang aslinya berkarakter otoriter, yang suka menyerang “elit intelektual,” “profesor,” atau “pakar”. Baginya kaum intelektual itu dianggap “mengganggu” karena cenderung mempertanyakan kebijakan kekuasaan dan menyebarkan pemikiran kritis.
Tidak mengherankan jika selama ini Pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Karena menganggap Pemerintahlah yang paling benar. Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara. Sedang kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai “bodoh”, melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti “antek asing”, dan “londo ireng”.
BACA JUGA:Prabowo Serukan Free Palestine di 1 Abad Gontor, Dikalungi Keffiyeh Dubes Palestina
BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Gontor Tak Boleh Berpolitik Praktis, tapi Harus Paham Politik
Makanya tidak heran, jika orang orang yang ada di sekitar kekuasaan, dipilih yang tidak bicara kritis. Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara. Mengabaikan nilai nilai demokratis yang menganggap kritik itu mencerdaskan, mendewasakan, dan membuat pemerintah lebih hati hati dan bijak.
Karakter Misologist yang membenci argumen kaum terdidik dilakukan dan disampaikan Prabowo itu mirip yang dulu juga dilakukan tokoh tokoh antidemokrasi seperti Mao Zedong (Cina), Polpot (Kamboja), yang garis politiknya anti terhadap orang berpendidikan tinggi. Inilah ironi Prabowo, yang notabene dia anak kandung intelektual Prof Soemitro Djoyohadikoesoemo.
Aneh jika Prabowo tidak suka dengan tradisi intelektual yg kritis seperti bapaknya dulu. Atau inilah gaya retorika Prabowo yang mengikuti gaya komunikasi Donald Trump, pemimpin negara demokrasi tapi berkakter antidemokrasi.
Trump dikenal menerapkan gaya komunikasi “Discredit Strategy” yang hobinya suka menyerang dan mendiskreditkan kaum kritis di Amerika Serikat sebagai kelompok yang tidak patriotik.
BACA JUGA:Resepsi 1 Abad Ponpes Gontor Dihadiri Prabowo, KH Abdullah Sahal Sentil Orang Cari Muka dan Jabatan
Gaya Komunikasi Prabowo punya banyak kesamaan dengan Trump, yang dalam retorikanya menganggap dirinyalah yang sedang berjuang membesarkan kejayaan negara. Dia yang mewakili kepentingan negara, sedang pengritiknya dicap sebagai “Traitor”, pengkhianat, penyebar berita bohong dan “The enemy of the American people” musuh rakyat AS. Prabowo melakukan hal yang tak banyak beda dengan Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: