Era Generative AI, Kuliah Bahasa Indonesia Justru Krusial!
Di era generative AI, belajar bahasa Indonesia justru menjadi faktor krusial.--iStock
MASUKKAN instruksi (prompt) singkat. Tunggu lima detik. Simsalabim, sebuah esai analitis sepanjang seribu kata tersaji rapi di layar laptop Anda.
Di era Generative Artificial Intelligence (AI) seperti sekarang, teknologi bisa menghasilkan esai, artikel, bahkan draft skripsi dalam hitungan detik.
Segala kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan bagi mahasiswa, “Untuk apa lagi mahasiswa belajar Bahasa Indonesia di perguruan tinggi?”
Pertanyaan itu sangat wajar muncul. Dan menjadi sangat relevan. Terutama bagi mahasiswa masa sekarang.
BACA JUGA:Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Mahasiswa, Tingkatkan Kecakapan Berbahasa di Era Digital
BACA JUGA:Bahasa Indonesia di Hukum: Mata Kuliah Pelengkap atau Fondasi Penalaran Hukum?
Ketika AI bisa merangkai kalimat yang jauh lebih rapi daripada ketikan manual, kelas Bahasa Indonesia mendadak terasa seperti sebuah formalitas masa lalu yang melelahkan.
Namun, benarkah mata kuliah tersebut sudah kehilangan relevansinya? Jawabannya justru sebaliknya.
Di zaman ketika mesin pintar bisa menulis apa saja, kuliah Bahasa Indonesia justru menjadi benteng terakhir. Itu menjaga nalar, logika, dan kedaulatan berpikir kita sebagai manusia.
Jika kita mau jujur, godaan untuk mendelegasikan seluruh tugas kuliah kepada AI adalah hal yang sangat manusiawi.
BACA JUGA:Bahasa Indonesia Resmi Dipakai di Vatikan, Jadi Tonggak Sejarah Baru!
BACA JUGA:TKA Mulai Diterapkan untuk SD dan SMP pada 2026, Ini Alasan Fokus Matematika dan Bahasa Indonesia!
Siapa yang tidak tergiur dengan efisiensi? Tugas rangkuman jurnal puluhan halaman bisa selesai dengan mudah.
Namun, di balik kenyamanan instan itu, ada harga mahal yang diam-diam sedang kita bayar. Yaitu penyusutan otot intelektual atau cognitive atrophy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: