Ketika AI Menjadi Teman Curhat
ILUSTRASI Ketika AI Menjadi Teman Curhat.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Karena itu, persoalan utamanya bukan ketika manusia berbicara kepada AI, melainkan ketika manusia mulai kehilangan kemampuan, keberanian, dan keinginan untuk berbicara kepada sesamanya.
Ruang Suci Tanpa Penghakiman Sosial
Mengapa manusia begitu mudah beralih kepada AI? Salah satu jawabannya berkaitan dengan dinamika budaya modern yang makin individualistis dan terisolasi.
BACA JUGA:Bahasa Ibu di Era Kecerdasan Buatan
Dalam interaksi antarmanusia, pengungkapan emosi secara jujur sering disertai risiko sosial, yakni takut dihakimi, dianggap lemah, disalahpahami, atau rahasianya disebarkan. Chatbot kemudian hadir sebagai ruang digital yang dipersepsikan bebas dari konsekuensi sosial tersebut.
Dalam perspektif Carl Rogers, manusia memiliki kebutuhan untuk memperoleh unconditional positive regard atau penerimaan positif tanpa syarat. Ketika seseorang tidak menemukan ruang penerimaan dalam relasi sosialnya, ia cenderung mencari lingkungan alternatif yang dianggap lebih aman untuk mengekspresikan diri.
AI dapat dipersepsikan sebagai ruang psikologis dengan ancaman sosial yang rendah meskipun penerimaan tersebut berasal dari sistem algoritmik, bukan kesadaran emosional.
Sedangkan dari perspektif antropologi, kecenderungan itu juga merefleksikan budaya hiper-individualisme. Manusia tetap membutuhkan validasi emosional, tetapi tidak selalu bersedia menanggung ”biaya sosial” dalam hubungan nyata, seperti kompromi, toleransi, kesabaran, dan tanggung jawab emosional.
Teknologi menawarkan kenyamanan yang sangat praktis seperti seseorang dapat mengeluh kapan saja, mendapatkan respons, lalu menutup aplikasi tanpa harus mempertimbangkan perasaan pihak lain.
Kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui displacement hypothesis, yaitu kemungkinan bahwa teknologi secara perlahan menggantikan waktu dan energi yang semestinya digunakan untuk membangun hubungan sosial secara langsung.
AI memang menawarkan kenyamanan dan aksesibilitas, tetapi kenyamanan tersebut berpotensi membentuk pola penghindaran terhadap relasi manusia yang menuntut timbal balik.
Pada titik tertentu, praktik itu menyerupai bentuk ”animisme baru” di era digital. Jika masyarakat tradisional dahulu memercayai bahwa benda-benda alam memiliki roh dan dapat menjadi tempat memanjatkan harapan, manusia modern dapat memperlakukan aplikasi sahabat virtual seolah-olah memiliki jiwa.
Respons terprogram sering dipersepsikan sebagai perhatian yang tulus. Batas antara mesin sebagai alat dan mesin sebagai ”teman” pun makin kabur.
Tergerusnya Empati dan Tawa Komunal
Di balik kenyamanan interaksi dengan AI, terdapat potensi risiko terhadap fondasi budaya komunal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: