Ketika AI Menjadi Teman Curhat

Ketika AI Menjadi Teman Curhat

ILUSTRASI Ketika AI Menjadi Teman Curhat.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

AI dapat membantu manusia memahami pikiran, tetapi hubungan antarmanusialah yang memungkinkan seseorang mengalami kebermaknaan, rasa memiliki, empati timbal balik, dan kehadiran emosional.

Perspektif psikologi humanistik menegaskan bahwa aktualisasi diri tidak hanya lahir dari kemampuan berpikir, tetapi juga dari pengalaman autentik dan relasi yang bermakna. 

Sementara itu, self determination theory menempatkan keterhubungan sebagai salah satu kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama dengan otonomi dan kompetensi.

Oleh karena itu, penggunaan AI yang sehat bukanlah dengan menolak teknologi, melainkan menempatkannya secara proporsional. Mesin mungkin mampu merangkai kata-kata yang terdengar empatik, tetapi ia tidak mengalami emosi sebagaimana manusia. 

Biarlah AI membantu mengelola data dan menjadi ruang refleksi. Sementara kehangatan, kasih sayang, empati, dan keberanian untuk hadir bagi sesama tetap menjadi tanggung jawab manusia. Sebab, pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jawaban, tapi juga membutuhkan manusia lain. (*)

*) Muchammad Syuhada’ adalah dosen Universitas Negeri Surabaya.

*) Achmad Muzakky Cholily adalah antropolog dan pengamat budaya Manifesto Ideas Institute.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: