Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra
ILUSTRASI Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Komite penilai Hadiah Nobel dari Akademi Swedia tidak mau dicampuri oleh pemerintah mana pun dalam menentukan pemenang hadiah Nobel Sastra.
Tapi, dalam kerangka diplomasi kebudayaan, pemerintah perlu memfasilitasi agar karya sastra dari warganya memperoleh hadiah Nobel melalui berbagai jaringan dan forum global.
Usaha paling konkret adalah mengusahakan penerjemahan karya sastra dan pembahasannya ke bahasa-bahasa internasional.
Syukurlah, puisi-puisi Taufiq Ismail sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Arab, Rusia, Turkiye, Tiongkok, Jepang, Persia, Bosnia-Herzegovina, dan lain-lain.
Meskipun Akademi Swedia bersifat independen, pemerintah suatu negara tetap bisa mendukung sastrawannya meraih hadiah Nobel Sastra melalui diplomasi budaya dan penerjemahan karya ke bahasa-bahasa internasional.
Untungnya, karya Taufiq Ismail telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Untuk menembus hadiah Nobel, fokus harus diarahkan pada puisi-puisi Taufiq yang konsisten menyuarakan kritik isu sosial-politik dan korupsi.
Sebab, tema perlawanan seperti itu memiliki daya tarik kuat di mata komite Nobel, berkaca dari banyaknya pemenang terdahulu yang merupakan figur ”oposisi” di negaranya.
Jika tema korupsi pada puisi-puisi Taufiq Ismail ”dijual” untuk mendapatkan hadiah Nobel Sastra, tantangan terbesar adalah kekhawatiran pemerintah terkait citra negara akibat diangkatnya isu korupsi itu ke ranah global.
Yang perlu dicatat, citra negara bersifat dinamis. Citra negara akan berubah jika fakta pemberantasan korupsi berhasil dengan baik.
Berkaca dari kegagalan Pramoedya Ananta Toer akibat sabotase internal, pemerintah dan siapa saja seharusnya tidak menghalangi peluang itu demi gengsi jangka pendek.
Memprioritaskan penerbitan, penyebaran, dan kajian internasional atas karya-karya kritis Taufiq Ismail merupakan kata kunci. Pemerolehan hadiah Nobel Sastra akan menjadi kebanggaan sejarah. (*)
*) M. Shoim Anwar adalah sastrawan dan dosen Universitas Adi Buana Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: