Otak Cerdas, Mengapa Korup?
ILUSTRASI Otak Cerdas, Mengapa Korup?-Gemini-
OPERASI tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengguncang dunia pendidikan. Kasus tersebut diduga berkaitan dengan suap penerimaan mahasiswa baru fakultas kedokteran, ruang yang seharusnya menjadi pintu masuk bagi calon-calon penjaga kehidupan.
Tentu, proses hukum dan asas praduga tak bersalah harus tetap dihormati. Namun, peristiwa tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa korupsi dapat tumbuh bahkan di lingkungan kaum terdidik?
Barangkali persoalannya tidak semata-mata berada pada moral individu, tetapi juga pada cara otak manusia belajar dari lingkungannya.
Beberapa waktu lalu, persoalan korupsi menjadi salah satu bahan diskusi dalam komunitas Indonesia Brain Forum yang dihadiri para pegiat neurosains dan pemikir lintas disiplin, saya hadir bersama Taufiq Pasiak, Arif Satria, Terawan Agus Putranto, Komaruddin Hidayat, Rocky Gerung, Bagus Muljadi, dan sejumlah tokoh lainnya.
BACA JUGA:Puasa dan Kesehatan Otak
BACA JUGA:Otak Anggota DPR dalam Perspektif Neuropolitik
Kami sampai pada kegelisahan yang sama: mengapa korupsi tetap merajalela meski pelakunya berpendidikan tinggi, memahami hukum, bahkan terkadang berbicara tentang agama dan moralitas?
Jawabannya mungkin karena pengetahuan tentang kebaikan tidak selalu identik dengan perilaku yang baik. Otak manusia bukan hanya organ untuk berpikir, melainkan juga mesin pembentuk kebiasaan.
Lereng Licin Ketidakjujuran
Penelitian Neil Garrett dan koleganya yang dipublikasikan dalam Nature Neuroscience menunjukkan bahwa ketidakjujuran dapat meningkat secara bertahap. Ketika seseorang pertama berbohong demi keuntungan pribadi, muncul respons emosional yang cukup kuat pada amigdala, bagian otak yang berhubungan dengan pemrosesan emosi (rem moral).
Namun, ketika kebohongan itu diulang, respons tersebut berangsur melemah. Otak mulai beradaptasi.
BACA JUGA:Otak Tumpul di Era Digital
BACA JUGA:Menjual Korupsi untuk Hadiah Nobel Sastra
Kebohongan yang semula menimbulkan rasa bersalah perlahan terasa biasa. Peneliti menyebut mekanisme itu sebagai slippery slope: pelanggaran kecil dapat berkembang menjadi pelanggaran yang makin besar. Fenomena tersebut merupakan proses biologis ketika otak mengalami desensitisasi terhadap tindakan amoral.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: