Otak Cerdas, Mengapa Korup?
ILUSTRASI Otak Cerdas, Mengapa Korup?-Gemini-
Itulah yang disebut kultur korupsi, bukan sekadar banyaknya individu korup, melainkan juga terbentuknya ekosistem yang membuat ketidakjujuran terasa normal, menguntungkan, dan relatif tanpa risiko.
Mencuci Otak untuk Kejujuran
Saya teringat pidato Wakil Ketua KPK 2015–2019 Laode M. Syarif di Universitas Airlangga beberapa tahun lalu. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan pesimismenya bahwa korupsi di Indonesia akan mudah dihilangkan.
Menurutnya, harapan mungkin baru muncul apabila lahir generasi baru yang sejak dini ”dicuci otaknya” secara masif dengan kultur antikorupsi.
Ungkapan ”cuci otak” tentu bukan dimaksudkan secara harfiah. Dalam bahasa neurosains, yang kita perlukan adalah pembentukan sirkuit kebiasaan melalui neuroplastisitas. Kejujuran harus dilatih, diulang, diberi teladan, dan diperkuat oleh sistem.
Pendidikan antikorupsi tidak cukup berupa mata kuliah atau hafalan tentang integritas. Anak-anak perlu mengalami bahwa kejujuran dihargai, pelanggaran mendapat konsekuensi, dan kekuasaan selalu dapat diperiksa.
Karena itu, pemberantasan korupsi memerlukan dua pekerjaan sekaligus: membangun otak yang berintegritas dan menciptakan sistem yang tidak memberikan ruang bagi rasionalisasi.
Transparansi digital, audit independen, perlindungan pelapor, rotasi kewenangan, dan hukuman yang konsisten akan membuat otak menghitung bahwa korupsi bukanlah pilihan yang menguntungkan.
Kasus di Unsoed seharusnya menjadi alarm keras. Universitas tidak cukup hanya mencetak otak-otak cerdas. Ia harus menjadi tempat membentuk otak yang tidak kehilangan rasa bersalah, empati, dan keberanian moral.
Sebab, ketika korupsi telah menjadi kebiasaan, yang rusak bukan hanya sebuah institusi. Yang sedang dibentuk adalah generasi otak berikutnya, otak yang belajar bahwa kepintaran dapat digunakan untuk mengakali kebenaran. (*)

*) Asra Al Fauzi adalah guru besar ilmu bedah saraf dan pemerhati neurosains, Universitas Airlangga.--
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: