Otak Cerdas, Mengapa Korup?

Otak Cerdas, Mengapa Korup?

ILUSTRASI Otak Cerdas, Mengapa Korup?-Gemini-

Suatu fenomena biologis nyata di mana otak kita mengalami desensitisasi terhadap tindakan amoral.

Karena itu, korupsi besar hampir tidak pernah lahir dalam semalam. Ia dapat dimulai dari pemberian kecil, titipan, manipulasi administratif, atau fasilitas yang dianggap sekadar ”tanda terima kasih”. 

Pada awalnya hati mungkin berdebar. Setelah dilakukan berulang-ulang dan tidak menimbulkan konsekuensi, rasa bersalah menumpul. Batas moral pun bergeser.

BACA JUGA:Mengikis Mental Korup dan Suka Menerabas

BACA JUGA:Entropi Demokrasi: Korupsi Merajalela, Bangsa Sedang Dikebiri

Otak kemudian melakukan rasionalisasi: ”semua orang juga melakukannya”, ”ini bukan uang negara”, ”saya hanya membantu”, atau ”saya pantas menerimanya”. Dalam psikologi, proses itu dikenal sebagai moral disengagement, seseorang melepaskan tindakannya dari standar moral melalui pembenaran bahasa dan pembagian tanggung jawab. 

Kalimat ”saya hanya menjalankan perintah” atau ”ini sudah menjadi kebiasaan institusi” bukan sekadar alasan hukum. Ia mencerminkan cara pikiran mengurangi konflik antara citra diri sebagai orang baik dan kenyataan bahwa dirinya melakukan perbuatan tidak etis.

Otak Menghitung Untung dan Moral

Studi mengenai dasar neural korupsi pada pemegang kekuasaan menunjukkan bahwa ketika seseorang menghadapi tawaran suap, otak seperti sedang membuat neraca: berapa keuntungan pribadi yang diperoleh dan berapa harga moral yang harus dibayar.

Keuntungan dan biaya moral itu dipadukan dalam ventromedial prefrontal cortex, area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan berbasis nilai. Sementara itu, anterior insula terlibat dalam merasakan pelanggaran norma dan temporoparietal junction membantu memperhitungkan kerugian yang dialami orang lain. 

Dorsolateral prefrontal cortex berperan dalam pengendalian diri dan keputusan menolak suap, terutama ketika tindakan tersebut merugikan pihak ketiga. 

Dalam konteks suap penerimaan mahasiswa, pihak ketiga itu nyata: calon mahasiswa yang lebih layak tetapi kehilangan kursi, keluarga yang percaya pada keadilan seleksi, dan masyarakat yang kelak menerima pelayanan dari dokter yang masuk melalui pintu yang tidak semestinya.

Masalah menjadi makin serius ketika lingkungan justru memberikan pembenaran. Otak adalah organ sosial. Ia belajar tidak hanya dari ceramah, tetapi juga dari perilaku yang berulang dan dianggap normal. 

Jika seorang pegawai muda menyaksikan senior menerima imbalan, lalu institusi diam, otaknya memperoleh pesan bahwa tindakan tersebut dapat diterima. Ketika korupsi dilakukan bersama-sama, tanggung jawab individual terasa mengecil. 

Yang menyimpang kemudian bukan lagi koruptor, melainkan orang jujur yang menolak ikut bermain.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: