"Pada puncak festival, kami menampilkan pendongeng dari berbagai komunitas, pertunjukan kreatif, area eksplorasi STEAM sederhana untuk anak, serta aktivitas-aktivitas interaktif lainnya," kata Bunda Inge.
Festival Dongeng Surabaya dibuka dengan lokakarya di Emerald Room, Heritage Resort Hotel, pada Jumat, 28 November 2025. Sasarannya adalah para pegiat literasi dan pendidik, khususnya guru PAUD dan TK.
Dua pemateri utama, Agung Cahya Karyadi (Kak Cahyo) dan Agus Setiyono (Kak Agus), menjadi narasumber pada sesi siang. Selanjutnya, sesi sore menghadirkan Kak Aio. Dalam rangkaian workshop inklusif itu, panitia menyediakan juru bahasa isyarat (JBI).
Sejak awal mendirikan Kumpul Dongeng Surabaya, Bunda Inge membuka diri pada para relawan dari komunitas tuna rungu Tatuli (Cerita Teman Tuli).
ISYARAT TANGAN TATULI diperagakan Bunda Inge dan Kak Aio di tengah teman-teman dari Komunitas Tatuli usai pementasan Sabtu, 29 November 2025.-Afif Siwi-Harian Disway-
BACA JUGA:Informal: Pergaulan Inklusif TIBA dan Teman Dengar, Bahasa Isyarat Warnai Perbedaan
BACA JUGA:Tes Kemampuan Akademik (TKA): Langkah Progresif Menuju Pendidikan yang Inklusif dan Berkeadilan
Banyak hal baru yang diperoleh peserta workshop rangkaian peringatan Hari Dongeng Nasional itu. “Ternyata ada waktu yang efektif untuk mendongeng, sekitar 5-15 menit,” kata salah seorang peserta.
Putra, peserta workshop yang juga guru PAUD, bertanya tentang komposisi ideal antara bercerita dan mendongeng bagi anak-anak. “Idealnya, 70 persen bercerita dan 30 persen mendongeng agar anak bisa memilah fakta dan nonfakta,” jawab Kak Cahyo.
Ia menambahkan bahwa bercerita dan mendongeng adalah dua hal yang berbeda. Bercerita bersandar pada fakta dan pengalaman nyata, sedangkan dongeng berisi unsur fantasi.
Menurut Kak Cahyo, keseimbangan antara fakta dan fantasi penting. “Agar anak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang imajinatif,” tandasnya. (*)