Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan

Minggu 30-11-2025,23:51 WIB
Oleh: Aam Waro’ Panotogomo*

Dengan membela kelompok minoritas, menolak diskriminasi, dan menegaskan prinsip kemanusiaan universal, ia menunjukkan bahwa keagungan NU bukan terletak pada jumlah pengikut, mlainkan pada keluasan kasih dan kebijaksanaannya.

NU yang dijaga oleh nilai-nilai seperti itu akan selalu dihormati, bahkan oleh mereka yang berbeda pandangan.

Di tengah tantangan era digital, pesan Gus Dur makin relevan. Ruang publik kini dipenuhi polarisasi opini, narasi saling hujat, dan upaya sebagian pihak untuk mengatasnamakan NU demi memperkuat posisi politik.

BACA JUGA:Biden, Gus Dur, dan Prabowo

Situasi itu menuntut warga NU kembali kepada prinsip-prinsip yang diajarkan Gus Dur: menjaga kesantunan, menguatkan literasi, berpikir jernih, dan tidak terjebak pada pertarungan yang mengorbankan nilai-nilai keulamaan. Marwah NU harus tetap menjadi pelita di tengah gelapnya kontestasi kepentingan.

Menjaga marwah NU ala Gus Dur bukanlah tugas yang selesai dalam satu waktu. Itu adalah ikhtiar panjang, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia menuntut keteguhan untuk menjadikan kejujuran sebagai fondasi, keberanian moral sebagai penuntun, dan kemanusiaan sebagai orientasi.

Dengan cara itulah, NU dapat terus menjadi rumah besar yang meneduhkan, rumah yang dihormati karena keluhuran akhlaknya, bukan besarnya pengaruh politik.

Gus Dur telah memberikan teladan bagaimana marwah NU dijaga: dengan keteguhan batin yang tak goyah, akhlak yang lapang, dan keberanian moral yang berdiri di atas segala kepentingan.

Kini tugas kita adalah melanjutkan jalan itu. Yakni, merawat NU sebagai jamiyah yang bermartabat, inklusif, dan menjadi rahmat bagi seluruh anak bangsa. (*)

*) Aam Waro’ Panotogomo adalah pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur.

 

Kategori :