Itu dikhususkan untuk penghormatan kepada Tuhan, Para Suci, dan leluhur. Lima dupa juga selalu dipakai ketika bersembahyang kepada Dewa Bumi. Atau kepada sosok gaib yang melindungi sebuah daerah.
“Kalau dalam ilmu Jawa ada yang namanya mbahurekso atau penguasa gaib di suatu tempat. Nah, kami menghormati beliau dengan bersembahyang memakai lima dupa,” ungkap ayah lima anak itu.
Selain itu, lima dupa bermakna mewakili lima unsur kehidupan: air, api, kayu, tanah dan logam.
Tak Menggunakan Dupa Berjumlah Enam
Pemakaian dupa berjumlah enam juga tidak dikenal dalam tradisi umat Konghucu. Pemakaian dupa berjumlah genap hanya ada dua dan delapan. Sedangkan ganjil adalah satu, tiga, lima, tujuh dan sembilan.
BACA JUGA:Lestarikan Budaya Tionghoa, INTI Gelar Sarasehan Dengan Perwakilan Universitas Xiamen
BACA JUGA:Fengshui Memilih Warna Keset, Salah Pilih Bisa Pengaruhi Rezeki
Tujuh Dupa
Dupa berjumlah tujuh dipakai untuk doa permohonan atau permintaan khusus kepada Tuhan. Selain itu, tujuh dupa digunakan untuk berdoa kepada Dewa Dapur.
“Dapur adalah bagian paling penting dalam sebuah rumah. Di dapurlah segala kehidupan dapat berjalan,” ungkapnya.
Ws. Liem mencontohkan, budaya Jawa juga menghormati dapur. Orang Jawa percaya kepada sosok Nini Thowok, mahluk gaib penunggu dapur.
“Kalau makna tujuh, kurang lebih sama maknanya dengan ilmu Jawa. Tujuh kan berarti pitu. Pitulungan atau pertolongan,” ungkapnya.
BACA JUGA:Fengshui Tahun Ular Kayu 2025, Banyak Peluang Bisnis, Tetap Kontrol Emosi
BACA JUGA:Mengenal Fengshui Yin dan Yang untuk Orang Hidup dan Mati
Dengan berdoa kepada Dewa Dapur, manusia memohon pertolongan. Memanjatkan harapan agar keluarga di rumah senantiasa berkecukupan. Khususnya dalam hal pangan.
Delapan Dupa
Delapan dupa dipakai umat Konghucu untuk upacara persembahyangan orang tua yang telah meninggal dunia.
Anak laki-laki tertua yang biasanya memberikan penghormatan terakhir untuk orang tuanya. Ia akan berdoa sembari memegang delapan dupa. “Tapi jika tidak memiliki putra, maka sembahyang diwakili anak perempuan tertua,” ungkapnya.
Persembahyangan kematian dengan delapan dupa bermakna puja bakti seorang anak terhadap orang tua. Juga sebagai permohonan maaf.