Ia juga menyinggung pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren yang diharapkan memperkuat peran negara dalam mengoptimalkan fungsi pesantren.
Kehadiran Ditjen Pesantren juga akan semakin mengoptimalkan peran negara dalam memaksimalkan tiga fungsi pesantren, sebagai tafaqquh fid din, lembaga dakwah, dan pemberdayaan umat.
BACA JUGA:Wujudkan Pesantren Ramah Anak, Kemenag Bentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan
Nasaruddin turut menyoroti penguatan Ekoteologi dan Kurikulum Cinta sebagai program kunci Kemenag. Kedua inisiatif tersebut dinilai semakin relevan di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatra.
“Di Indonesia hampir setiap instansi saat ini bicara ekoteologi. Kita sudah mulai setahun lalu. Banyak instansi luar negeri undang kami bicara ekoteologi,” ujarnya.
Menurut Menag, bahasa agama memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan.
“Selama ini teologi kita terlalu maskulin. Kita perlu green teologi. Ke depan akan ada kerja sama lintas agama untuk gunakan bahasa agama dalam merawat lingkungan,” sambungnya.
BACA JUGA:Viral Aksi Gus Elham Cium Bocah Perempuan Tuai Kecaman, Kemenag Angkat Bicara
BACA JUGA:Usai Diperiksa KPK, Mantan Pejabat Kemenag Bungkam
Sementara Kurikulum Cinta, kata Menag, dirancang untuk mengajarkan agama tanpa menanamkan kebencian, dengan menekankan titik temu dan semangat kebersamaan.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, Kemenag menggulirkan program Masjid Ramah Pemudik yang melibatkan 6.859 masjid di 27 provinsi, berlangsung dari 23 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.
“Rumah ibadah adalah rumah kemanusiaan. 6.859 masjid di seluruh Indonesia disiapkan untuk program Masjid Ramah Pemudik. Tahun lalu tidak sebanyak ini,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan bahwa capaian Kemenag mencakup aspek kualitatif dan kuantitatif. Dari sisi kuantitatif, Kemenag berhasil mensertifikasi 101 ribu guru dalam satu tahun, capaian tertinggi sepanjang sejarah.
“Capaian ini menjadi instrumen transformasi yang fundamental. Ada kenaikan kompetensi guru yang terukur dan kenaikan kesejahteraan,” ujarnya.
Selain itu, terdapat 11 PTKN yang bertransformasi menjadi universitas, pembentukan Ditjen Pesantren, pelantikan 120 ribu ASN, serta penguatan pemberdayaan ekonomi umat melalui wakaf dan zakat.