HARIAN DISWAY - Krisis iklim global kembali mendapat sorotan. Riset internasional mengungkap kemampuan tanaman menyerap karbon dioksida tidak sebesar perkiraan sebelumnya.
Tingginya kadar karbon dioksida atau CO2 di atmosfer selama ini dikenal sebagai pemicu utama perubahan iklim.
Dalam banyak model iklim, tanaman dianggap mampu mengimbangi sebagian dampak tersebut. Karena pertumbuhannya meningkat seiring naiknya kadar CO2. Sehingga menyerap lebih banyak karbon dari udara.
Namun, penelitian terbaru yang melibatkan University of Graz, Austria, menunjukkan asumsi tersebut terlalu optimistis.
Dampak buruk perubahan iklim bagi lingkungan. Salah satunya yaitu naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global.-Pinterest-Pinterest
BACA JUGA:Pemanen Es di Harbin yang Keluhkan Pemanasan Global: Suhu Lebih Hangat, Es Lebih Tipis
BACA JUGA:Kepala BMKG Resmikan Tower Pemantau Gas Rumah Kaca di Jambi, Upaya Untuk Mitigasi Pemanasan Global
Kemampuan tanaman menyerap CO2 sangat bergantung pada ketersediaan nitrogen, unsur hara penting yang ternyata jauh lebih terbatas di alam dibandingkan yang selama ini dihitung dalam model iklim.
Tanaman tidak dapat memanfaatkan nitrogen secara langsung. Unsur tersebut harus terlebih dahulu diubah ke bentuk yang dapat diserap.
Yakni melalui proses fiksasi nitrogen, yang sepenuhnya bergantung pada mikroorganisme di dalam tanah. Proses itu berlangsung dalam ekosistem alami maupun lahan pertanian.
“Fiksasi nitrogen di alam selama ini sangat dilebih-lebihkan. Padahal peningkatan besar justru terjadi di sektor pertanian, yang naik sekitar 75 persen dalam 20 tahun terakhir,” ujar Bettina Weber, ahli biologi University of Graz, merujuk pada temuan riset yang dipublikasikan awal tahun 2026.
BACA JUGA:Efek El Nino dan Pemanasan Global, Salju Abadi Puncak Jaya Terancam Punah
BACA JUGA:Krisis Iklim Ancam Hidangan Natal di Berbagai Negara, Kalkun hingga Kayu Manis Kian Langka dan Mahal
Selain itu, dilansir science.org, temuan tersebut menjadi dasar analisis lanjutan terhadap Earth System Models. Yakni model yang digunakan secara luas untuk memproyeksikan tren iklim global.
Model tersebut menjadi rujukan laporan besar seperti World Climate Report. Hasil pembaruan itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).