Prabowo Ingatkan Bahaya Ketergantungan Impor di Tengah Konflik Global

Selasa 06-01-2026,20:29 WIB
Reporter : Noor Arief Prasetyo
Editor : Noor Arief Prasetyo

BOGOR, HARIAN DISWAY - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengingatkan bahaya ketergantungan impor pangan di tengah konflik global yang terus bergejolak dan berpotensi mengancam ketahanan nasional, Selasa, 6 Januari 2026.

Peringatan tersebut disampaikan Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun 2026. Ia menegaskan bahwa ketergantungan terhadap impor pangan dari negara lain sangat berisiko, terutama ketika negara pemasok tengah dilanda konflik geopolitik yang berkepanjangan.

Prabowo mencontohkan konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja. Dalam beberapa tahun sebelumnya, Indonesia kerap mengimpor beras dari kedua negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, konflik yang berulang antara Thailand dan Kamboja dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok dan stabilitas suplai pangan apabila Indonesia terus bergantung pada impor.

“Sekarang, Thailand dan Kamboja perang terus. Setelah perang, negosiasi, gencatan senjata, damai, kemudian meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu, bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik?” jelas Prabowo.

BACA JUGA:1 Tahun MBG Capai 55 Juta Penerima Manfaat, Prabowo Tekankan Nol Kesalahan

BACA JUGA:Prabowo Panggil Kabinet di Awal 2026, Tekankan Strategi Transformasi Bangsa

Selain konflik regional, Prabowo juga mengingatkan pengalaman pahit pada masa pandemi COVID-19. Saat itu, sejumlah negara pengekspor pangan memilih menutup keran ekspor untuk mengamankan kebutuhan domestik masing-masing, meskipun negara lain memiliki kemampuan finansial untuk membeli.

Kondisi tersebut, menurut Prabowo, menjadi pelajaran berharga bahwa uang bukan satu-satunya faktor penentu ketersediaan pangan. Ketika krisis global terjadi, setiap negara akan memprioritaskan keselamatan rakyatnya sendiri.

“Pada saat pandemi, banyak negara menutup ekspornya. Kita punya uang, tapi tidak bisa membeli karena negara tersebut mengamankan pangannya sendiri,” ujarnya.

Oleh karena itu, Prabowo menegaskan bahwa kebijakan swasembada pangan yang dijalankan pemerintah saat ini merupakan langkah yang sangat tepat dan relevan. Kebijakan tersebut dirancang untuk mengantisipasi berbagai ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga krisis kesehatan dan ekonomi dunia.

BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Dirinya Tidak Antikritik: Justru Saya Terbantu, Itu Menyelamatkan Saya

BACA JUGA:Prabowo Gelar Retret Kedua Kabinet Merah Putih di Hambalang Hari Ini

Ia menjelaskan bahwa swasembada pangan merupakan bagian dari Strategi Transformasi Nasional yang disusun secara tertulis, terukur, dan berbasis kajian jangka panjang. Strategi ini bertujuan memperkuat kemandirian bangsa dan memastikan negara mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya secara mandiri.

“Bangsa Indonesia harus mandiri. Bangsa Indonesia harus berdikari, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyat,” tegas Presiden.

Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia kini telah mampu menghindari risiko ketergantungan impor setelah berhasil mencapai swasembada pangan pada tahun lalu. Keberhasilan tersebut ditandai dengan cadangan beras pemerintah yang berada di kisaran 3 juta ton per 31 Desember 2025.

Kategori :