Kerja Nyata, Ikhtiar Bersama

Minggu 11-01-2026,05:33 WIB
Oleh: Fandi Akhmad Yani*

Di titik itulah saya memahami bahwa infrastruktur bukan hanya urusan beton, melainkan juga urusan karakter sebuah masyarakat.

Sektor kesehatan pun menjadi prioritas kerja. Melalui Program ”Sehat Dulu, Gresik Melaju-Layanan Kesehatan Terpadu 2025”, pemerintah berhasil memperluas cakupan manfaat hingga 79 persen penerima. Program integrasi ”Gresik Ustad Stunting (GUS)” berhasil mendorong penurunan stunting menuju target nasional.

Namun, penurunan angka hanya mungkin terjadi karena keterlibatan para kader posyandu, bidan desa, tokoh agama yang mengajak jamaah memperhatikan gizi anak, serta para ibu yang dengan sabar menghadiri kelas konseling kesehatan. Mereka semua adalah pahlawan pembangunan yang tidak tercatat dalam statistik, tetapi nyatanya menentukan capaian.

Di sektor ketahanan pangan, rehabilitasi waduk, perlindungan irigasi, bantuan peralatan mesin pertanian, hingga pengembangan kawasan pangan adalah strategi memastikan kedaulatan pangan lokal tidak bergantung penuh pada pasar bebas.

Saya bangga melihat para petani, yang sering dipandang sebelah mata, justru menjadi kelompok paling disiplin dalam bekerja sama. Mereka membentuk kelompok tani, memetakan saluran irigasi, dan merencanakan musim tanam dengan matang. Pemerintah hanya memfasilitasi, tetapi rakyatlah yang menjalankannya.

Lalu, di bidang ekonomi kerakyatan dan UMKM, terdapat job fair, inkubasi bisnis, pendampingan ekspor, dan program ekonomi kreatif melalui festival. Saya selalu percaya bahwa UMKM bukan pelengkap, melainkan tulang punggung ekonomi kabupaten. Ketika pemerintah daerah memfasilitasi, masyarakatlah yang menghidupkan kegiatannya.

Semua ikhtiar itu kemudian ditopang oleh gerakan pembangunan SDM inklusif, penyelesaian persoalan putus sekolah, penguatan layanan untuk anak berkebutuhan khusus, hingga gerakan literasi budaya dan religius daerah. 

Ada ruang publik yang dihiasi budaya, ada festival yang merayakan kreativitas, ada insentif bagi 1.100 penghafal Al-Qur’an, dan ada penghargaan bagi generasi muda. Itu menegaskan bahwa Gresik bukan hanya maju secara fisik, melainkan juga dewasa secara rohani dan identitas.

Pada titik itu, saya teringat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: ”Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna, bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (Q.S. An-Najm: 39–42).

Ayat itu mengajarkan tentang etos ikhtiar dan tanggung jawab. Bagi saya, pemerintah dan rakyat sedang berada dalam satu garis takdir: kita hanya akan mendapatkan hasil dari apa yang kita perjuangkan bersama. Karena itu, ketika hari ini Gresik berkembang, itu bukan semata pencapaian pemerintah, melainkan juga hasil gotong royong rakyatnya.

Pada akhirnya, saya ingin menegaskan bahwa kerja pembangunan bukan hanya kerja teknokrasi, melainkan juga kerja kemanusiaan. Kita mengurus kesehatan agar anak-anak tumbuh kuat. Kita membangun jalan agar ekonomi bergerak. Kita memperkuat pangan agar desa tidak kelaparan. Kita merawat budaya agar jiwa kita tidak hampa.

Itulah kerja nyata yang sejak awal menjadi janji moral kami. Tetapi, di atas semua itu, ada satu hal yang ingin saya syukuri setulus-tulusnya: keikutsertaan masyarakat dalam setiap tahap perjalanan ini. Tanpa dukungan rakyat, semua visi hanya menjadi slogan.

Jika Bung Karno berkata bahwa alam semesta akan membantu mereka yang berkeinginan kuat, saya percaya: rakyat Gresik adalah bagian dari ”alam semesta” itu. Mereka yang membantu, merawat, dan membangun: dari sawah hingga sekolah, dari pasar hingga puskesmas, dari pesantren hingga ruang-ruang pengabdian sosial. 

Karena itulah, saya meyakini –selama rakyat masih mau bergandengan tangan– Gresik akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih adil, maju, dan bermartabat. (*)


*) Fandi Akhmad Yani adalah bupati Gresik dan ketua DPC PDI Perjuangan Gresik.-Istimewa-

 

Kategori :