Sabrang: Tenaga Ahli DPN Bukan Berarti Masuk Kekuasaan

Rabu 21-01-2026,20:40 WIB
Reporter : Mohamad Nur Khotib
Editor : Mohamad Nur Khotib

Menurutnya, fungsi tersebut sejatinya telah ia lakukan selama bertahun-tahun melalui berbagai forum diskusi, termasuk Maiyah, seminar, dan kanal digital.

Perbedaannya, kali ini dilakukan melalui sebuah eksperimen dengan masuk ke ruang formal negara. “Yang saya lakukan itu sebenarnya sudah dilakukan sejak dulu. Bedanya sekarang ada sebuah eksperimen yang harus dicoba,” ujar vokalis band Letto itu.

BACA JUGA:Resah Politik Uang, Sabrang MDP Bikin Podium2024.id (1): Platform AI untuk Mengenal Gagasan Para Kontestan Pemilu 2024

BACA JUGA:Cak Nun Dikabarkan Pendarahan Otak, Suko Widodo: Kita Doakan, Nggih

Sabrang juga menegaskan bahwa peran barunya tersebut tidak mengubah identitas dan posisinya di komunitas Maiyah.

Ia menyebut dirinya tetap sebagai bagian dari Maiyah, yang menurutnya merupakan fondasi utama dalam cara berpikir dan bersikap. “Saya tetap Maiyahan. Itu primer, nomor satu,” tegas alumnus Universitas Alberta Kanada tersebut.

Masalah utamanya, bagaimana menghubungkan secara jernih antara apa yang selalu dibahas di Maiyah ke pihak yang bisa mendengarkan di struktur pemerintahan.

"Jadi kalau ada yang khawatir saya di bawah Bahlil (menteri ESDM, Red) atau Gibran (wakil presiden, Red) ya ora (nggak) mungkin, wis (sudah), ora urusan (nggak ada urusan). Ini eksperimen yg saya lakukan," jelasnya.

Menanggapi kekhawatiran sebagian pihak yang menilai keputusannya sebagai bentuk “masuk sistem”, Sabrang lantas mengurai perbedaan antara negara, pemerintah, dan kekuasaan politik. 

BACA JUGA:Cak Nun dan Firaun

BACA JUGA:Profil Cak Fuad, Kakak Pertama Cak Nun itu Berpulang

Ia menjelaskan bahwa pemerintah merupakan entitas yang bekerja dalam siklus politik lima tahunan. Sementara negara memiliki kepentingan jangka panjang agar terus berjalan. Negara juga memiliki mekanisme umpan balik untuk memperbaiki diri.

“Kalau kita bicara pemerintah, di situlah bargain politics terjadi. Negara itu concern-nya beda. Negara butuh feedback supaya pemerintah bisa bercermin dan memperbaiki diri,” jelasnya.

Menurut Sabrang,  Maiyah berada di luar sistem pemerintahan selama puluhan tahun, namun tetap berada dalam kerangka negara dengan semangat cinta Indonesia.

Masukan-masukan yang disampaikan dari luar sistem tersebut, imbuhnya, kerap tenggelam di tengah kebisingan perang informasi, media sosial, dan buzzer.

BACA JUGA:Memaknai 16 Foto Sejenak Indonesia di Rumah Maiyah, Cak Nun dan Tamunya

Kategori :