”Tiba-tiba kutertegun
Pandang mataku tertumbuk
Perahu kecil terayun
Nelayan tua di sana
Tiga malam bulan telah menghilang
Langit sepi walau tak berawan”
(Iwan Abdurahman)
BEBERAPA waktu lalu Presiden Prabowo menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat paling bahagia. Tertinggi di antara dua ratus negara. Presiden juga menyatakan rasa harunya. Terlebih, klaim itu didasarkan pada survei yang dilakukan Harvard dan Gallup.
Membaca klaim tentang kebahagiaan di atas, muncul sekian pertanyaan dalam benak saya: benarkah rakyat Indonesia mempunyai tingkat kebahagiaan yang tinggi? Apa saja yang diukur dalam survei tersebut? Adakah tersirat hasil survei itu dimanfaatkan secara politis?
DAYA TAHAN ATAS PENDERITAAN
Atas pertanyaan pertama, saya jadi teringat cerita Iwan Abdurahman ketika menggubah lagu Burung Camar. Lagu itu kemudian populer lewat suara Vina Panduwinata dan memenangkan penghargaan Yamaha Music Festival di Jepang tahun ’80-an.
BACA JUGA:Benarkah Orang Indonesia Paling Bahagia di Dunia?
BACA JUGA:Gaya Hidup Minimalis Bikin Lebih Bahagia
Iwan terinspirasi oleh novel The Old Man and The Sea karya emas Ernest Hemingway. Novel itu memberikan gambaran ironi kehidupan: ketika nelayan-nelayan mencari ikan, kemudian dijual di restoran, dan orang-orang kaya menikmatinya dengan harga mahal sampai ratusan ribu, nelayan-nelayan itu tidak bisa makan.