Judi Opsi Samson

Jumat 06-02-2026,22:48 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Perut pesawat gendut itu tidak berisi gandum atau selimut bayi. Isinya mesiu. Isinya tiket menuju maut.

Presiden AS Donlad Trump menamainya dengan gagah: ”Armada”. Kapal induk USS Abraham Lincoln sudah parkir cantik di sana. Dikawal kapal perusak. Otot besinya menyembul menakutkan.

Tapi, ada rahasia kecil yang harus Anda tahu. Di balik otot binaragawan itu, ada napas yang ngos-ngosan. Ada asma yang disembunyikan.

AS, sang elang, ternyata sedang cekak peluru. Gudangnya bergema kosong. Melompong.

Penyebabnya jelas. Perang 12 hari antara Israel dan Iran, Juni 2025 lalu. Stok rudal penangkis THAAD disedot habis. Bayangkan, 150 butir ditembakkan seperti kembang api tahun baru. Dalam kurang dari dua minggu.

Kini pabrik Lockheed Martin dipaksa kerja rodi. Harus produksi empat kali lipat. Dari 100 jadi 400 rudal setahun.

Tapi, pabrik senjata bukan Sangkuriang. Tidak bisa bikin perahu dalam semalam. Mengisi ulang gudang butuh tahunan. Jadi, ”Armada” Trump itu berlayar membawa perisai yang retak. Ibarat macan, taringnya sedang tanggal.

 

OPSI SAMSON

DI SUDUT lain ring gulat, ada Iran.

Jika Venezuela adalah kartu mati, Iran adalah kartu Joker. Kartu badut yang bisa bikin bandar bangkrut.

Saya membayangkan Jenderal Hossein Daghighi di Teheran. Kamis kemarin, 5 Februari, ia memegang ponselnya. Jenderal Garda Revolusi itu baru saja melemparkan ”bom molotov” di media sosial.

Katanya pedas: ”Tujuan utama kami mengusir AS.”

Ancamannya lebih sadis: ”Jika AS menyerang, kami hajar Israel dulu, baru pangkalan AS.”

Netizen mungkin tertawa. Bilang jenderal itu sedang halusinasi. Bilang itu racauan orang kepepet.

Tapi, jangan tertawa dulu. Para ahli strategi perang tidak ikut tertawa. Mereka paham sinyal bahaya tersebut. Iran percaya satu hal. Satu-satunya cara biar tidak dipukul adalah mengancam akan membakar seisi rumah.

Kategori :