BACA JUGA:Indonesia Perkuat Patroli Pesisir Lewat Kapal Cepat Rudal Tipe 22 Tiongkok
BACA JUGA:Prabowo Ingin Produksi Rudal dan Kapal Selam Bareng Brasil
Artinya. Jika tombol ditekan di Teheran, rudal itu akan sampai di Tel Aviv dalam kurang dari 6 menit. Dalam istilah militer, itu adalah pola bagi strategic victory. Para jenderal di Tel Aviv tidak punya waktu untuk berpikir. Anda bahkan belum selesai merebus mi instan dan boom, kota sudah jadi api.
Bagaimana dengan kapal induk AS di Teluk Persia? Cuma butuh satu menit. Para kelasi di geladak USS Gerald R. Ford bahkan tak sempat menyeduh Pop Mie, apalagi mengaktifkan protokol pertahanan Aegis.
Sistem Iron Dome atau David’s Sling jadi tidak relevan. Dalam kecepatan segila itu, hukum fisika menjadi humor. Mencegat manuver hipersonik ibarat mencoba menembak peluru pistol dengan peluru pistol lain sambil mata tertutup di atas roller coaster.
BACA JUGA:Rudal Iran Hantam Pusat Kota Tel Aviv, Rumah Sakit Hingga Bursa Efek Rusak Parah
BACA JUGA:Israel Merudal RS Eropa di Gaza Incar Pemimpin Hamas, Direktur Sebut Tidak Ada Aktivitas Militer
Para Mullah di Iran kini tak lagi mengejar ”kemenangan perang” konvensional. Itu klasik. Mereka mengejar cost-imposition strategy. Cukup tenggelamkan satu kapal induk seharga 13 miliar dolar AS dengan rudal seharga kacang goreng. Hegemoni AS akan terlihat seperti elang tua yang menderita encok.
Di Gedung Putih pertemuan Trump dan Netanyahu tanggal 12 Februari kemarin konon berakhir dengan meja yang digebrak. Bibi, panggilan Netanyahu, ingin serangan pre-emptive. Hajar sekarang.
Namun, Trump ragu. Sebagai pebisnis, ia berhitung. Iran menyimpan ”kota rudal” bawah tanah dengan bahan bakar hypergolic. Cairan kimia setan yang membuat rudal siap luncur dalam 12 menit tanpa persiapan rumit.
Serbasalah. Perang terlalu mahal buat neraca dagang. Damai juga tak terbeli kali ini.
ROMANSA PANDA MERAH
Bergeser ke Asia, kita melihat pergeseran strategi perang paling berbahaya.
Profesor I Chong Lai dari Taiwan punya analogi genius. Dulu Beijing bilang ke Taipei kalimat ini: ”Kalau kamu minta cerai, aku tembak”. Di era Xi Jinping, kalimatnya berubah jadi naskah horor psikologis: ”Kalau kamu menolak menikah denganku, aku bunuh”. Bedanya tipis.
Lupakan invasi amfibi ala film Saving Private Ryan. Itu mahal, rugi bandar, dan PLA belum siap logistik angkut personel sampai 2027. Beijing lebih cerdik. Mereka sedang melatih strategi ”zona abu-abu” lewat karantina laut. Strategi anakonda.
Bayangkan Taiwan sebagai pasien di ICU. Setiap tahun ada 72.000 kapal yang menyuplai ”darah” energi ke sana. Beijing sedang belajar cara menjepit slang infus itu. Target utamanya adalah gas alam cair (LNG). Cadangan LNG Taiwan cuma cukup untuk 7 hari. Tanpa impor LNG, pembangkit listrik mereka mati dalam seminggu.