Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan

Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan

ILUSTRASI Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

DALAM persepktif intelijen tradisional, kekuatan negara diukur dari kapabilitasnya menyimpan rahasia. Namun, di lanskap digital saat ini terjadi paradoks, negara justru berlomba menjadi yang paling terbuka dan tercepat menyajikan informasi seolah itu bentuk akuntabilitas. 

Kelimpahan informasi yang diproduksi negara bukan selalu instrumen keterbukaan, melainkan alat membentuk realitas. Heuer (1999) mengatakan bahwa analis intelijen yang baik bekerja melawan bias kognitif. 

Hari ini bias kognitif itulah titik serang propaganda modern, saat kebenaran diperlakukan sebagai komoditas yang dapat difabrikasi sesuai kepentingan trategis. 

Konflik Iran versus aliansi AS-Israel 2025/2026 memaksa kita mendefinisikan ulang ancaman kedaulatan di era digital. Yang dipertaruhkan bukan wilayah fisik, melainkan ruang kognitif pengguna media sosial di Indonesia. 

BACA JUGA:Petaka Perang di Ujung Selat

BACA JUGA:Telepon Penangkis Perang

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita terlibat (karena sudah terlibat), melainkan apakah negara memiliki kerangka kebijakan yang memadai. Hoffman (2007) mendefinisikan hybrid warfare sebagai kaburnya batas antara perang dan damai, antara kombatan dan warga sipil.

Berebut Pengaruh: Iran vs Israel-AS

Anatomi komunikasi digital Israel dan Iran memperlihatkan dua arsitektur pengaruh yang berbeda secara mendasar. Israel mengoperasikan struktur sentralistik, yakni narasi digerakkan Kementerian Luar Negeri dan unit juru bicara militer, bergaya faktual dibungkus sarkasme. 

Investigasi +972 Magazine mengungkapkan, unit itu menjalankan operasi psikologis tersembunyi selama 14 bulan pertama perang Gaza, termasuk mengoperasikan akun palsu dan merekrut pulahan influencer pro-Israel kelas dunia untuk memperkuat pesan resmi. Logika strategisnya: dominasi narasi melalui kanal otoritatif dan amplifikasi berbayar.

Iran menjalankan arsitektur sebaliknya, yakni orkestrasi terdesentralisasi melalui jejaring kedutaan lokal. Akun resmi Kedutaan Iran di Jakarta memiliki sekitar 47 ribu pengikut di Instagram. 

BACA JUGA:AI sebagai Daya Perang

BACA JUGA:Nestapa Kucing Perang

Mereka melakukan strategi kontekstualisasi sosiologis, alih-alih mendikte narasi seragam, kedutaan berperan sebagai ”sahabat” yang peka isu domestik: mulai ucapan duka untuk prajurit TNI yang gugur di Lebanon, kunjungan ke tokoh agama lokal, hingga penggalangan dana terkait Palestina. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: