Rajin menulis buku dan jurnal ilmiah. Sudah 32 judul buku yang diterbitkan. Ada yang ditulis sendiri dan ada yang bersama orang lain. Kini, bersama saya dan Sekretaris LPTNU Dr Faishal Aminudin, akan menerbitkan buku tentang gerakan sosial-ekonomi NU.
Pidato ilmiahnya menarik. Tentang manajemen. Judulnya Soft Brain Engineer: Rekonstruksi Ilmu Manajemen untuk Membangun Kecerdasan Organisasi di Era Disrupsi. Jelas ini sesuatu yang baru di ilmu manajemen
Ia memperkenalkan paradigma baru dalam ilmu manajemen yang tak hanya fokus pada struktur organisasi, sistem, dan teknologi. Tapi, lebih pada kecerdasan manusia di dalam organisasi. Bagaimana otak, emosi, dan kognisi bekerja dan berkontribusi terhadap performa organisasi.
Paradigma itu dibangun dengan mengintegrasikan neurosains (ilmu otak), psikologi, dan teori manajemen untuk menciptakan pendekatan yang lebih dalam dan holistik. Dengan demikian, ilmu manajemen tak hanya mengasah soft skill.
Baginya, manajemen lama terlalu mekanistik. Hanya fokus pada efisiensi, kontrol, dan standardisasi. ”Ini cocok untuk era industrialisasi, tapi kurang memadai untuk organisasi modern yang kompleks dan berbasis manusia,” tuturnya.
Dalam pengamatannya, organisasi modern memang menghasilkan produktivitas yang meningkat. Namun, semua itu diikuti dengan kelelahan yang meningkat. Dengan demikian, sistem kerja sering kali menggerus kondisi psikologis manusia.
”Dalam organisasi modern, kita berhasil membangun sistem yang efisien, tapi lupa menjaga kesehatan mental manusia di dalamnya,” kata guru besar dengan dua orang anak itu.
Situasi tersebut ditambah dengan adanya era artificial intelligence yang membuat otak manusia kelebihan beban. Ditambah algoritma yang makin rumit sehingga keputusan makin kompleks. Buntutnya, banyak pekerja yang mengalami stres dan lelah.
Masalah organisasi hari ini, bagi Yusak, bukan karena kekurangan sistem. Melainkan, kekurangan kesadaran manusia. Teknologi telah berkembang cepat. Namun, kapasitas mental dan emosional manusia tak ikut meningkat.
Karena itu, ia memberikan daya tawar untuk mengatasi hal tersebut. Apa itu? Organisasi yang sepenuhnya menerima dan melibatkan pekerjanya. Penawarnya bukan hanya mengurangi beban kerja. Tapi, juga membangun hubungan dan makna.
Yusak juga menawarkan pergeseran paradigma dalam manajemen. Dari paradigma human capital ke neuro-psychological capital. Paradigma baru yang lebih fokus pada kapasitas kognitif dan emosional ketimbang keterampilan teknis. Penilaian berbasis adaptabilitas dan wellbeing ketimbang output.
Juga, menjadikan manusia sebagai pusat kecerdasan organisasi ketimbang sekadar aset produksi. ”Yang menentukan masa depan bukan hanya skill teknis. Tapi, juga kualitas kesadaran dan karakter,” tegasnya.
Ia lantas mengajak semua menjadi soft brain engineer. Juga, menjadikan paradigma barunya dalam manajemen itu masuk ke sistem organisasi. Baik itu pelatihan, budaya, maupun kebijakan SDM.
”Di dunia pendidikan, paradigma ini mengharuskan kita untuk melakukan transformasi. Dari sekadar transfer ilmu menjadi pembentukan karakter neuro-psikologis yang tangguh,” tambahnya.
Pemikiran baru Yusak itu bergayung sambut dengan Rektor Triyogi. Dalam sambutannya, ia melihat pemikiran Yusak tersebut sebagai instrumen praktis bagi transformasi di universitas yang dipimpinnya. Sebab, ia tak ingin mencetak lulusan yang hanya unggul secara teknis, tapi rapuh secara mental.
Yang pasti, Yusak tak hanya mencetak sejarah bagi orang tuanya yang memberinya nama Ansori. Tapi, juga bagian sejarah dari Unusa yang belum sampai satu setengah dekade berdiri. Menjadi yang pertama orang dalam yang mencapai puncak jabatan akademik tertinggi.